Tuesday, September 05, 2006

Hijab

Problematika Hijab

Makalah ini merupakan terjemahan dari Majalah Al-Bayan edisi 197, Muharram 1425 H, yang ditulis oleh DR. Adnan Ali Ridlo An-Nahwy dengan judul “Ma'a Qodliyah Al-Hijab”. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita semuanya, Amiin.

Presiden Perancis, Chiraq, memutuskan pelarangan berhijab bagi para muslimah di sekolah-sekolah Perancis. Berbagai penulis, surat kabar dan mass media lainnya mengomentari, menentang serta mengecam keputusan ini. Namun Syaikh Al-Azhar, DR. Muhammad Sayyid Al-Thanthawy telah mengejutkan dunia dengan fatwanya yang mengatakan bahwa Perancis mempunyai hak untuk mengeluarkan keputusan semacam ini, dan setiap muslimah berkewajiban mentaati keputusan ini selama mereka hidup di Perancis, dengan alasan ‘dharurah’. Sehingga nampak disini bahwa makna dharurah dalam Islam telah hilang dihadapan Syaikh Al-Azhar.

Setelah problem yang ada adalah bagaimana melawan Presiden Perancis, sekarang menjadi bagaimana melawan Thanthawy dan Chiraq. Amerika, Inggris, Kaum Katholik di Perancis, dan Vatikan menganggap bahwa Perancis tidak mempunyai hak untuk mengeluarkan keputusan semacam itu, sesuai dengan pedoman Demokrasi Sekuler dan ajaran Nasrani. Maka timbullah berbagai sanggahan terhadap pernyataan Thanthawy dari para syeikh Azhar dan dari para umat Islam di Dunia Islam, sebagaimana mereka telah melawan Chiraq.

Problematika Hijab di Perancis adalah problem lama yang muncul pada permulaan abad ke 15 H / akhir abad ke 20 M. Problem itu muncul ketika beberapa sekolah Perancis men-drop out beberapa siswi muslimah, karena mereka bersikeras untuk berhijab. Umat Islam mulai menentang hal itu dari daerah ke daerah, dari level ke level tanpa menghasilkan apapun. Problem itu terus berlangsung seiring kerja keras umat Islam Perancis, sampai hari ini ketika Chiraq mengeluarkan keputusan terakhir, dan Syaikh Al-Azhar mendukungnya.

Apa sebab munculnya problem ini? Banyak orang mengembalikan problem ini kepada tantangan atas keberadaan Islam dan umatnya. Tetapi saya ingin menunjukkan sebab utama munculnya problem ini dalam pandangan saya. Yaitu adanya rentetan fenomena ‘mengalah’ (tanazul) dari umat Islam sepanjang sejarah yang cukup panjang. Baik itu di Dunia Islam, ataupun di Barat, maupun di Perancis sendiri.

Saya pernah mengikuti Konferensi Islam di Perancis, beberapa tahun yang lalu. Saya dikejutkan oleh beberapa ide yang dikemukakan waktu itu bahwa Sekulerisasi sama dengan Islam. Ide semacam ini diterima oleh beberapa da'i muslim dengan dukungan dan penjelasan. Sehingga salah seorang diantara mereka berkata, "Kita tidak ada pilihan lain kecuali kita berbaur dengan prototype Perancis dalam berbudaya dan beragama.." Ucapan ini terus berulang di berbagai tempat yang berbeda, di antaranya dalam dialog antara saya dengan mereka secara koresponden, maupun di kediaman saya di Riyad yang disaksikan sejumlah da'i. Sikap mengalah ini sebagiannya berakhir dengan dianutnya sistem sekuler di beberapa negara Islam dan dilarangnya hijab serta dilarangnya beberapa hukum syari'ah.

Sikap berlepas diri yang berkepanjangan ini telah membentuk kekuatan spiritual mayoritas Dunia Barat untuk berani menentang Islam dan umatnya dalam masalah Hijab dan yang lainnya, ketika mereka melihat sebagian umat Islam mengalah dari keislamannya sedikit demi sedikit. Sehingga tersedia kesiapan dari sebagian umat Islam untuk berlepas diri dari Islam lebih lanjut.

Ditambah dengan beberapa fatwa dari umat Islam yang terkesan lemah dan tidak serius. Sehingga muncul di Perancis seruan untuk mengganti Huruf Arab dengan Huruf Perancis, yang didukung oleh sejumlah keturunan Arab Muslim. Sebagian yang mengaku Islam menuntut untuk menggantikan Bahasa Al-Quran dengan Bahasa Pasaran (‘Amiyah), dan kejadian-kejadian lain yang tidak mungkin disebutkan semuanya.

Adapun pendapat Syaikh Thanthawy—saya malu untuk menyebutnya sebagai fatwa—telah membuat kita shock, ketika pendapat yang menyelisihi Islam secara keseluruhan ini keluar dari sosok Syaikh Al-Azhar. Padahal Al-Azhar telah berabad-abad menjadi simbol perjuangan Islam dan umatnya.

Kesalahan besar yang diambil oleh Syaikh Al-Azhar, bahwa yang menjadi kewajibannya adalah membicarakan kepada setiap orang tentang Islam, syari'atnya dan hukum-hukumnya, serta untuk menyampaikan agama Allah sesuai dengan yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw, dan mendakwahi manusia kepadanya. Islam agama Allah dan agama semua Nabi dan Rasul as. Islam merupakan ajaran kepada semua manusia, termasuk Syaikh Al-Azhar dan Chiraq. Jika salah seorang bermaksiat terhadap Rabb-nya dan menyalahi risalahnya, apakah kita akan membenarkannya?

Syaikh Al-Ahar tidak punya hak untuk membenarkan aliran yang menyeleweng dari agama yang benar, memberikan alasan untuk keberadaannya, dan memberikan peluang kepada seorang muslim untuk menyeleweng dari dienullah. Perancis dan negara lainnya tidak berhak untuk mengeluarkan undang-undang yang menyelisihi syariat Allah. Jika mereka melakukan hal itu berdasarkan kekuatan dan sekulerisme mereka, maka Syaikh Al-Azhar atau muslim manapun tidak berhak untuk untuk menerimanya, mendukungnya atau berhukum kepadanya.

Sekulerisme beranggapan bahwa negara tidak ikut campur dalam urusan agama manusia. Setiap orang bebas mengikuti agama yang diingininya. Namun demikian, negara-negara sekuler membiarkan gerakan kristenisasi dan menyokongnya dengan dana, media, dll. Padahal Islam sebagai satu-satunya agama yang diakui di sisi Allah, menjadikan kewajiban utama negara adalah menjaga agama Islam, menegakkan syariahnya, dan berdakwah kepadanya sebagaimana yang diturunkan kepada Muhammad saw. Allah berfirman,

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih kaum yang telah diberi Al-Kitab kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) diantara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS.3:19)

“Apakah mereka mencari selain agama Allah? Padahal segala apa yang ada di bumi dan di langit berserah diri kepada-Nya, baik suka rela maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.” (QS.3:83)

“Barangsiapa yang mencari selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima agamanya tersebut, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS.3:85)

Kita perhatikan dari berbagai sanggahan terhadap Syaikh Al-Azhar dan Chiraq, bahwasanya mereka yang mengeluarkan sanggahan tersebut berhukum kepada sekulerisme, undang-undangnya, dan berhukum kepada kebiasaan serta undang-undang yang tidak ada sangkut pautnya dengan Islam. Sesungguhnya kewajiban setiap muslim, termasuk Syaikh Al-Azhar, untuk mengembalikan segala problematika besar maupun kecil kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Juga mengeluarkan ide yang didukung dengan argumentasi dan petunjuk dari Al-Quran dan As-Sunnah. Setelah itu tidak mengapalah kita menyanggah mereka berdasarkan seklurisme dan demokrasi mereka. Tapi, mana demokrasi yang mereka akui? Yang ada hanyalah permusuhan, penjajahan, dan perampasan kekayaan bangsa lain. Semuanya hanyalah slogan bohong di setiap tempat untuk menipu umat Islam sebagaimana mereka telah tertipu dengan slogan-slogan lainnya.

Kita sadar bahwa kita sekarang lemah. Namun kelemahan kita tidak menghalalkan untuk pengubahan agama Allah, melepaskan diri darinya serta mengabaikan sebagian ajarannya demi untuk mendapatkan perhatian fihak selain Allah. Seharusnya setiap muslim sadar, bahwa bagaimanapun mereka mengabaikan ajaran agamanya untuk menarik perhatian kaum sekuler, sesungguhnya hal itu tidak akan menghasilkan kasih sayang mereka. Bahkan dia hanya akan kehilangan dua hal :

1. Kehilangan Ridlo Allah.

2. Kehilangan Wibawa Di Hati Mereka. Lalu menjadi bagian dari orang-orang yang merugi.

Sebagaimana Firman Allah SWT di QS.3:85.
Walaupun seorang muslim berusaha sedemikian rupa untuk mendapatkan perhatian mereka, sesungguhnya mereka tidak akan pernah ridlo..
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridlo kepadamu, sampai kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah adalah petunjuk yang sebenarnya.’ Dan jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datan kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi peliondung dan penilong bagimu.” (QS.2:120)

Keputusan untuk melarang muslimah berhijab di sekolah-sekolah Perancis adalah hawa nafsu belaka yang tidak bersandarkan agama atau ilmu atau moral. Apakah Syaikh Al-Azhar lupa ayat ini kemudian mengikuti nafsu mereka?

Kita menyeru Syaikh Al-Azhar untuk bertaubat kepada Allah atas fatwanya tadi. Sesungguhnya fatwanya tersebut telah keluar dari batasan fatwa menuju maksiat dan dosa. Maka bertaubatlah dan mengumumkan taubatnya sebelum beliau bertemu Allah dalam keadaan merugi, dan tidak ada penolong serta pelindung baginya di hadapan Allah.

Kita katakan kepada umat Islam di Perancis dan selainnya, tetaplah pada agama Allah dengan keimanan, keilmuan, berdakwah dan menyampaikan diatas pedoman yang terang, apapun resikonya. Ketahuilah bahwa hal yang dlarurat dalam syariah adalah hal yang mengancam kita kepada kelaparan, kehausan, kematian dan semisalnya saja. Dan dlarurat itu untuk perorangan dan tidak untuk sebuah jamaah atau seluruh umat agar mengabaikan agama Allah.

Kita katakan kepada seluruh umat Islam, cukuplah pengabaian kalian. Tampakkanlah yang Haq, agama Allah, Islam, Keimanan, Keilmuan dan Ketakutan terhadap Allah dan bukan ketakutan terhadap manusia. Berdakwahlah kepada Agama Allah dan tampakkanlah agamamu. Sesungguhnya itulah sumber kekuatan kita, dan sebab keselamatan kita. Tampakkanlah agama yang benar dan jangan menyeleweng serta mengabaikannya apapun kondisinya. Jika tidak maka tunggulah kehancuran, tunggulah kehancuran!

Kasus di Perancis dan negara lainnya bukanlah problem Hijab, tapi problem Islam dan ajarannya, problem iman kepada Allah dan agama-Nya.

Sesungguhnya Allah tidak memberikan hak kepada seseorang untuk kafir kemudian selamat dengan kekafirannya. Sekali-kali tidak! Allah menginginkan dari para hamba-Nya keimanan yang sebenarnya yang tumbuh dari kalbu dan keyakinan, dari pemikiran dan perenungan, dan dari ajaran nabi terakhir. Barang siapa yang beriman maka baginya surga, kebaikan dan pahala. Barang siapa yang kafir maka baginya neraka jahannam dan adzab yang pedih...
“Katakanlah, bahwa kebenaran itu datangnya dari Allah. Barang siapa yang mau beriman berimanlah, dan barang siapa yang mau kafir kafirlah. Sesungguhnya kami sediakan bagi orang-orang yang dhalim neraka yang mengepungnya. Dan jika mereka minta minum maka akan diberi minuman seperti besi mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman paling buruk dan peristirahatan paling jelek. # Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal sholeh, tentunya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalannya dengan baik.” (QS.Al-Kahfi:29-30)

Janganlah seseorang mentakwilkan seenaknya ayat Allah
“Tidak ada paksaan untuk masuk agama (Islam)”
tapi dia harus menyempurnakan potongan ayat sesudahnya,
“sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. # Allah Pelindung orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang kafir pelindungnya adalah syetan yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.” (QS.2:256-257)

Ummu Hafshoh 1425 H.

Merdeka

KEMERDEKAAN DIRI & KEMERDEKAAN BERNEGARA

Danni Nursalim Harun, Lc. Dipl.


Siapa yang tidak ingin merdeka? Satu pertanyaan remeh yang mungkin dianggap membuang waktu saja untuk menjawabnya. Sebab jawabannya sudah dapat dipastikan bahwa setiap orang pasti ingin merdeka. Sebodoh apapun yang namanya manusia pasti ia ingin merdeka, dan mau mendapatkan kemerdekaan. Setiap penjajahan, lambat laun pasti akan menemui perlawanan dan perjuangan kemerdekaan. Sejarah adalah saksi terbaik atas hal ini.

Hanya ketika berbicara masalah kemerdekaan, akan muncul sebuah pertanyaan lain yang cukup menggelitik, sederhana tapi urgen. Adapun jawabannya akan sangat berbeda dan mungkin menjadi tidak objektif, karena setiap orang akan menjawab sesuai sudut pandang mereka masing-masing. Dari jawaban tersebut juga maka manusia akan saling tuduh bahwa si fulan belum merdeka karena tidak berani berbuat demikian, atau si fulan belum merdeka karena masih percaya akan hal-hal yang kuno dan ketinggalan zaman. Bahkan pembahasan akan menjadi amat sangat panjang, boleh jadi bisa berubah menjadi perdebatan yang sangat alot lalu menemui titik buntu.

Pertanyaan tersebut adalah, Apa arti kemerdekaan yang sebenarnya? Bukankah ini pertanyaan yang sederhana? Tapi mari kita lihat jawaban yang akan timbul dari pertanyaan yang 'sepele' ini. Secara linguistik, kemerdekaan adalah kata benda dari 'merdeka' yang mempunyai arti : 1. Bebas (dari perhambaan, penjajahan, dsb) 2. Tidak terkena atau lepas dari tuntutan. 3. Tidak terikat, tidak tergantung kepada orang atau fihak tertentu; Leluasa.

Itu menurut Bahasa Indonesia yang baik dan benar (meminjam istilahnya Jus Badudu). Mari kita bandingkan dengan Bahasa Arab. Merdeka dalam Bahasa Arab adalah الاءســتقلال Asal katanya القَـلّة yang artinya النـهضة من مرض أو فقـر atau kebangkitan, baik dari sakit maupun dari kemiskinan. Adapun الإســتقلال itu sendiri berarti ; تفـرّد بـلاد بحكـم نفسـها و لا يشـركها فيـه غيرها atau suatu negara memerintah dirinya sendiri tanpa ada fihak lain yang ikut campur didalamnya.

Sedangkan kalau kita lihat arti kemerdekaan dalam Bahasa Inggris, maka kemerdekaan adalah Independence yang berarti ; The quality or state being independent (suatu kelompok atau wilayah menjadi merdeka); Freedom (kebebasan). Sedangkan asal katanya adalah Independent yang berarti; 1. Not governed by another country (tidak diperintah oleh negara lain). 2. Not needing another things or people (tidak memerlukan sesuatu yang lain atau orang lain).

Jika kita perhatikan arti linguistik kemerdekaan dalam Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, lebih menekankan kepada merdekanya suatu negara dari cengkraman penjajah. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia, artinya lebih luas daripada kedua bahasa tersebut. Bisa kita katakan bahwa Kemerdekaan dalam Bahasa Indonesia identik dengan Kebebasan, yang dalam Bahasa Inggris adalah Free / Freedom, atau الحــرّيـة dalam Bahasa Arabnya.

Sebagai Warga Negara Indonesia yang baik, maka kita akan mengambil arti linguistik Kemerdekaan dalam Bahasa Indonesia sebagai titik tolak pembahasan kita kali ini. Kenapa? Sebab Kemerdekaan adalah Bahasa Indonesia asli 100 %, dan bukan istilah fiqh yang harus menilik dari Bahasa Arab sebagai bahasa induk, dan juga bukan istilah kontemporer yang mayoritas berasal dari Bahasa Inggris. Juga kalau kita membahas kemerdekaan dengan bahasa lain maka nilai individu dari sebuah kemerdekaan akan terasa hambar. Padahal seseorang akan memperjuangkan kemerdekaan bangsanya kalau dia berhasil membuat dirinya merdeka terlebih dahulu. Sedangkan perbandingan bahasa itu sengaja penulis cantumkan sebagai pengetahuan bagi mereka yang segan buka kamus.

Itu Definisi Kemerdekaan secara bahasa. Lalu apa arti sebenarnya dari kemerdekaan tersebut? Kalau kita berpatokan secara lingual an sich maka kemerdekaan itu berarti bebas untuk berbuat apa saja, tanpa harus takut kepada apa dan siapa saja. Karena merdeka adalah antonim dari terikat, terbelenggu, terjajah, terkungkung dan sebagainya. Kalau seseorang itu sudah merdeka, maka dia adalah tuan bagi dirinya sendiri, walaupun tidak menutup kemungkinan untuk mencari kesempatan agar menjadi tuan bagi fihak lain. Tidak ada yang boleh mengatur dirinya selain dirinya sendiri. Tidak mau diperintah kecuali oleh dirinya sendiri. Tidak akan menuruti kehendak kecuali kehendak dirinya sendiri. Pokoknya semuanya serba sendiri. Tapi merdeka tidak sama dengan ego dan individualis…!

Adapun hubungannya dengan orang lain adalah kepentingan bersama. Ia mau bergabung dan bekerjasama dengan fihak lain karena kepentingan bersama. Ia rela untuk mengungkung sebagian kebebasan dirinya demi kepentingan bersama. Ia senang diatur dan disuruh fihak lain karena kepentingan bersama. Bahkan ia rela menjadi seorang budak, baik secara sadar maupun tidak, hanya untuk kepentingan bersama. Namun jika kepentingan bersama tadi dirasakan sudah tidak memadai atau tidak layak untuk dipertahankan, maka mulailah pemberontakan untuk mencari kemerdekaan yang baru. Kalau pemberontakan itu berhasil maka skenario akan dimulai dengan accecories baru namun untuk judul yang sama, yaitu Kepentingan Bersama. Kalau pemberontakan tidak berhasil, maka ia akan menjadi budak selamanya, atau mati dengan kemerdekaan yang terampas.

Itulah kemerdekaan yang difahami oleh mayoritas manusia dewasa ini. Bebas dengan kehendak sendiri. Hal ini tentu saja menimbulkan efek samping yang tidak baik (baca: buruk). Memahami suatu hal dengan pemahaman yang salah, sama dengan orang yang salah minum obat, atau minum obat yang benar tapi over dosis. Mungkin efek buruk tadi tidak akan terasa dalam jangka waktu yang pendek. Tidak seperti orang yang salah minum obat yang langsung merasakan akibatnya. Namun seiring perputaran bola dunia, pemahaman salah tadi akan merusak manusia secara pelahan namun pasti. Buktinya, berapa banyak negara yang sudah merdeka dan diakui kemerdekaannya oleh dunia, namun malah sibuk dengan perang saudara. Kalau sudah demikian mana yang lebih baik, terjajah namun hidup tentram dan adem ayem, atau merdeka namun saling bunuh dengan tetangga sendiri? Lebih baik kalau pertanyaan seperti ini tidak pernah muncul.

Lihatlah, betapa banyak negara yang dinyatakan sudah merdeka namun ternyata masih ricuh. Dan keributan itu timbul bukan karena ada negara lain yang ingin kembali menjajah. Tidak seperti Agresi Militer Belanda I & II yang bertujuan menjajah kembali Indonesia. Justru mereka malah ribut dengan kawan-kawan satu negara. Kenapa? Karena mereka memahami kemerdekaan secara linguistik saja, lalu diinterpretasikan masing-masing secara bebas (atau mungkin juga liar) yang berbuahkan perbedaan pendapat, berbuntutkan perbedaan kepentingan. Karena kepentingan yang berbeda, bahkan mungkin bertolak belakang, lalu timbullah peperangan untuk memperjuangkan dan mempertahankan kepentingan, masing-masing. Padahal belum tentu kepentingan mereka yang berperang itu benar dua-duanya, bahkan bisa jadi salah dua-duanya.

Lalu siapa yang jadi korbannya? Adalah mereka yang tidak punya kepentingan. Siapakah mereka? Rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa kecuali ingin menyelamatkan diri, tapi kemudian mati terbujur kaku karena dihantam peluru nyasar atau sengaja disasarkan. Apa mungkin peluru disasarkan? Sangat mungkin, sebab peluru bukanlah sesuatu yang berakal. Sedangkan manusia yang berakal saja masih bisa diselewengkan. Adapun tujuannya, agar mereka yang tidak punya kepentingan itu berubah pikiran menjadi punya kepentingan, lalu mendukung salah satu kelompok yang dirasa paling dekat dengan kepentingan barunya. Akhirnya, mereka pun siap mati dengan membawa kepentingan yang diperjuangkan. Tapi ingat, mati mempertahankan kepentingan tidak sama dengan mati syahid!!!

Bagaimana cara kita memahami kemerdekaan baik secara individu maupun dalam bernegara? Sebagai umat Islam, maka kita harus memahami kemerdekaan dengan bertitik tolak dari identitas kita sebagai muslim. Islam adalah ajaran kemerdekaan. Islam adalah satu-satunya yang mengajarkan dan membawa manusia kepada kemerdekaan yang hakiki plus sejati. Mau buktinya? Kita perhatikan Hadits Nabi saw ini; كل مـولود يـولد على الفطـرة
"Setiap bayi yang lahir dilahirkan dalam keadaan fitrah.."

Apakah fitrah manusia itu? Fitrah manusia adalah bebas dari segala macam pengaruh, putih bersih bagaikan kertas yang masih kosong. Namun kemudian orangtuanyalah yang akan menjadikan dia seperti fitrah semula atau akan memberikan pengaruh yang menjadikan dia hilang fitrahnya. Jadi, manusia dilahirkan bebas dari segala hal, tidak ada yang namanya Dosa Warisan, sehingga harus dibersihkan dengan air suci. Tidak pula dia membawa dendam warisan, apalagi hutang warisan.

Hakekat kemerdekaan dalam persfektif Islam adalah ketika manusia bebas beribadah kepada Allah SWT. Mengapa demikian? Kita ingat salah seorang Prajurit Islam yang ditanya oleh Panglima Romawi waktu tentang apa tujuannya berperang. Ia menjawab dengan tegas dan penuh wibawa, "Kami datang untuk memerdekakan manusia dari penghambaan terhadap sesama manusia kepada penghambaan terhadap Allah semata...." Kalimat ini diucapkannya karena ia sangat memahami firman Allah dalam QS.Adz-Dzariyaat:56 yang berbunyi, و ما خلـقت الجـن و الإنـس الا ليـعبدونِ
"Dan tidak sekali-kali Aku (Allah) ciptakan Jin dan Manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku..."

Sejalan juga dengan kalimat syahadat yang menjadi bukti akan keIslaman seseorang secara dlahir. لا إله الا الله
"Tiada Ilaah selain Allah."
Ketika seseorang mengucapkan syahadat maka dia menafikan, meniadakan, dan tidak akan mengakui segala Ilah kecuali Allah sahaja. Apakah itu Ilah? Ilah bukan hanya berarti Tuhan karena Tuhan sesuatu yang abstrak. Ilah bisa jadi adalah Tuhan dalam bentuk yang abstrak yang disembah melalui ritual khusus, tapi bisa juga sebuah sosok real yang terlihat dan bisa kita jumpai dan bisa kita ajak komunikasi secara langsung.

Sebab Ilah adalah apa saja yang disembah, diibadahi, ditaati, dan dicintai. Dan kesemuanya tadi bukan hanya monopoli 'Tuhan' yang berbentuk supra natural, tapi juga bisa berupa manusia, undang-undang, benda, bahkan perasaan sendiri. Bukankah ketika seseorang mentaati orang lain, siapapun orangnya, padahal orang yang ditaatinya itu menyuruh kepada kebatilan sama dengan men-Tuhankan dia? Kalau tidak percaya, silahkan buka kembali dialog antara Rasulullah saw dan 'Ady ibn Hatim ketika 'Ady membantah bahwa Kaum Nasrani menjadikan para pendeta menjadi Tuhan. Lalu Rasulullah saw menjawab, "Bukankah para pendeta itu menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, lalu kalian mentaatinya?" 'Ady menjawab, "Ya." Jawab Rasulullah saw, "Itulah yang dinamakan men-Tuhankan para pendeta..."

Kalau kita harus jadi hamba Allah, berarti kita tetap tidak merdeka? Sebab apapun yang namanya hamba pasti harus turut dengan kehendak Tuannya. Ya begitulah kehidupan. Tidak ada kemerdekaan yang absolut. Orangtua pernah mengatakan bahwa hidup itu harus berani memilih. Sebab di akhirat pun kita tetap harus memilih, mau ke neraka apa mau ke surga? (Tapi memilihnya di dunia dengan amal ibadah kita, bukan langsung memilih di akhirat….!) Begitu juga kehidupan kita di dunia, apakah kita mau menjadi Hamba Allah yang akan mendapatkan kemerdekaan yang hakiki, atau mau menjadi Hamba Iblis yang akan terkena perbudakan abadi? Rasulullah saw sempat menerangkan, bahwa barang siapa yang tidak takut kecuali kepada Allah, maka seluruh yang ada di alam semesta ini akan takut kepadanya. Namun jika ada orang yang takut kepada selain Allah, maka ia akan merasa takut kepada semua kepada yang ada di alam semesta.

Perhatikanlah, ketika kita hanya takut kepada Allah, maka kita akan bebas merdeka dari segala gangguan yang ada di alam semesta. Kemanapun kita pergi, apapun yang akan kita lakukan semuanya ada dalam lindungan Allah. Kita tidak akan cemas dengan yang akan kita hadapi, dan atas apa yang akan kita tinggal, karena kita sudah menyerahkannya kepada Allah. Jika Allah yang menjaga maka siapakah pula yang akan berani mengganggu. Manakah kemerdekaan yang lebih hebat daripada ketika kita ditakuti oleh semua yang ada di bumi dan di langit…?

Lain halnya ketika kita takut terhadap segala sesuatu. Mau melakukan hal ini, kita cemas akan gangguan anu, lalu kita harus mengadakan sesajen untuk keselamatan kita. Kita mau pergi ke suatu tempat, kita cemas kalau ada fihak yang mengganggu, lalu kita harus komat-kamit baca mantra dan bakar kemenyan sampai pusing untuk memohon keselamatan. Kita mau melakukan kegiatan pada hari tertentu, tidak boleh karena ada pantangan. Kalau pantangan dilanggar bisa pamali, kwalat, kena kutukan dan berbagai ancaman khurafat lainnya. Sangat rugi kalau kita harus begitu. Oleh karena itulah, maka orang yang membebaskan diri dari penghambaan kepada Allah maka ia telah menyerahkan dirinya untuk menjadi budak hawa nafsunya dan sejenisnya (baca: syetan dan kawan-kawan). Mana yang kan kita pilih, menjadi Hamba Allah dengan garansi untuk mendapat ridlo-Nya yang melebihi dari semua kenikmatan yang ada, atau menjadi Hamba Apa Saja yang tidak akan mendapat jaminan apa-apa (untuk selamat dari neraka).

Kalau kita hendak memerdekakan diri kita, maka kita harus putuskan segala belenggu setan yang mengikat diri kita. Apakah mungkin manusia terbelenggu tali setan? Bukan hanya mungkin, tapi sering dan terlalu sering sehingga tidak pernah sadar bahwa itu adalah tali setan. Contoh konkretnya untuk kita sebagai kelompok yang mencari ilmu (katanya?), maka kita harus sadari tali setan yang mengikat kita. Banyak bentuk tali setan yang harusnya kita putuskan, malah kita pelihara baik-baik, seperti malas belajar, meremehkan pelajaran, malu bertanya, kebanyakan olah raga, atau belajar tapi yang bukan-bukan..??? Akibatnya, pelajaran kita terbengkalai, nilai berantakan, prestasi hancur lebur, harga diri ikut kabur....

Karena seharusnya sebagai Mahasiswa/pelajar itu dia merdeka untuk belajar, tanpa harus dihantui rasa malas, rasa bosan. Dia akan merasa enjoy ketika banyak ilmu yang harus dipelajarinya. Seorang Mahasiswa yang merdeka ia akan merasa tertekan ketika dia tidak bisa belajar sebanyaknya dan sepuasnya. Seorang Mahasiswa yang merdeka dia akan merasa tersiksa ketika tidak bisa menuai ilmu sebanyak mungkin. Bagi Mahasiswa yang merdeka, masa liburan adalah masa yang paling menyakitkan. Oleh karenanya, untuk menghilangkan perasaannya yang pedih, dia akan sibuk untuk dapat belajar dengan cara apapun. Tentunya cara yang diridloi Allah.

Lain dengan halnya dengan Mahasiswa yang terjajah. ia merasa bahwa belajar itu adalah hal yang menyiksa dia. Sehingga sedapat mungkin dia mencari alasan agar kegagalan dalam belajarnya tidak menjadi bahan gunjingan orang. Masa yang paling menakutkan adalah masa ketika diktat kuliah sudah turun semua. Lebih mengerikan lagi baginya ketika ujian semakin dekat sedangkan para dosen tidak memberikan tahdid.... Jangankan untuk mencari tambahan ilmu diluar, sedangkan apa yang wajib dipelajarinya pun hanya dipelajari sesuai tahdid dan akan hanya ingat saat ujian berlangsung saja (itupun kalau sempat ingat, kalau tidak ya....?) Padahal yang dipelajarinya itu adalah ilmu keIslaman, yang kalau pun tidak sempat memberikan manfaat kepada orang lain, namun akan cukup menyelamatkan dia dari sentuhan api neraka.

Hubungannya dengan keislaman kita sangat jelas sekali. Islam adalah satu-satunya Pedoman Hidup Abadi yang mengajarkan para pengikutnya untuk senantiasa menuntut ilmu. Jangan berpura-pura lupa bahwa ayat yang pertama kali diturunkan adalah surat Al-'Alaq, yang isinya perintah untuk membaca. Sedangkan membaca adalah gerbang utama untuk menuntut ilmu. Jangan bangga mengaku sebagai Mahasiswa Muslim kalau ternyata untuk membaca saja terasa berat (baca: malas). Maaf, maksud membaca ini adalah membaca buku keilmuan dan bukan membaca buku-buku fiksi.

Seorang muslim yang merdeka, akan menuntut ilmu segiat mungkin tanpa mengenal ruang dan waktu. Karena menuntut ilmu itu merupakan bagian dari ibadah, sedangkan muslim yang merdeka akan senantiasa bebas untuk menjalankan segala hal yang berbentuk ibadah kepada Allah, termasuk menuntut ilmu. Sebuah pepatah Arab mengatakan العمـل بلا عـلم خـطأ فـاٍن لـم يخطأ
"Sebuah amalan tanpa ilmu adalah salah walaupun amalan itu tidak salah."
Maksud dari pepatah itu adalah, kalau kita hendak mengerjakan suatu amalan, baik itu ibadah ataupun apa saja maka kita harus punya ilmunya dulu. Kalau tidak, maka amalan kita itu akan salah, walaupun dari segi tata caranya benar. Karena kita tidak tahu manfaat dan fungsi dari setiap amalan yang kita kerjakan.

Dan waktu untuk menuntut ilmu yang diberikan oleh Islam tidak kepalang tanggung, dari mulai lahir sampai mau dikubur. Dari sekian waktu yang telah diberikan Allah kepada kita, berapa persenkah yang telah kita pakai untuk menuntut ilmu? Kalau 25% saja dari hidup kita ini dipakai untuk menuntut ilmu, Insya Allah umat Islam tidak akan pernah kehilangan ulama. Hanya sayangnya mayoritas dari kita masih hidup dalam alam penjajahan keilmuan sehingga waktu untuk menuntut ilmunya tidak pernah lebih dari 5%.... Sehingga estafet keilmuan umat ini selalu terputus. Ketika salah seorang ulama habis masa tugasnya, tidak ada yang segera menggantikan. Kalaupun ada yang menggantikan, tidaklah selevel dengan ulama yang tadi, dan masih untung juga bukan ulama yang sesat!!! Kapankah kita akan mengadakan perang kemerdekaan melawan penjajahan keilmuan ini???

Perlu digarisbawahi disini, bahwa ilmu yang penulis maksudkan disini adalah ilmu-ilmu keIslaman. Bukan artinya hendak mendikotomikan antara ilmu keIslaman dan cabang-cabang keilmuan lainnya. Sebab penulis berpendapat bahwa ilmu-ilmu keIslaman adalah induknya dari segala macam cabang ilmu. Disamping juga kita yang berada di Timur Tengah ini nota bene adalah para pelajar yang menuntut ilmu-ilmu keIslaman.Dengan kata lain, kalau kita bisa meraih ilmu keIslaman, maka kita bisa meraih cabang ilmu lainnya dengan mudah. Tapi kalau kita meraih cabang keilmuan yang lain, belum tentu kita bisa meraih ilmu-ilmu keIslaman dengan sukses.

Kita baru membahas kemerdekaan diri dari persfektif muslim yang bertitel Mahasiswa. Belum ditambah kalau kita mau membahas kemerdekaan diri dari persfektif muslim secara umum, maka pembahasan akan memanjang dan melebar dan tidak akan habis dibahas dalam waktu sehari. Maka penulis cukupkan dengan sisi kemahasiswaan saja dahulu, karena itu yang sangat urgen bagi kita dewasa ini. Dalam rangka menyambut tahun ajaran baru, mahasiswa baru, dan tentunya dengan semangat baru, kita rebut kemerdekaan kita sebagai mahasiswa untuk bebas menuntut ilmu. Setelah kita merdeka sebagai mahasiswa muslim, maka kita akan berusaha untuk memerdekakan diri kita sebagai muslim seutuhnya. Adapun pembahasan mengenai kemerdekaan bernegara, masih terlalu jauh untuk diperbincangkan. Lebih baik merdekakan diri dulu, baru kita membahas masalah kemerdekaan bernegara.....

Mari kita camkan baik-baik untaian syair berikut ini

و كلّ امـرئ يدرى مواقع رشده و لكنـه أعمى أسـير هـواه
يشـير عليه الناصحون بجهدهم فيأبى قبول النصح و هو يراه
هوى نفسه يعميه عن قصد رشده و يبصر عن فهم عيوب سـواه
Sungguh setiap orang tahu akan kebenaran yang ada pada dirinya
Namun sayangnya ia telah buta karena menjadi tawanan hawa nafsunya
Berapa banyak orang menasehatinya dengan penuh kesungguhan
Tapi ia enggan menerima nasehat tersebut padahal ia tahu kebenarannya
Sungguh Hawa Nafsunya membutakan dirinya dari kebenaran yang ditujunya
Padahal ia bisa melihat jelas dan penuh kesadaran cacat orang lain…..

Wednesday, August 02, 2006

BERBAGAI KEUTAMAAN


Allah menciptakan semua mahkluk di langit dan di bumi. Dia-lah yang mengutus para Rasul as, dan menurunkan kitab-kitab suci. Kemudian Allah memberikan keutamaan bagi sebagian makhluk atas sebagian yang lainnya. Disini, penulis mencoba mengumpulkan sebagian hal-hal yang diutamakan Allah dari sebagian yang lainnya.
1. Tempat Paling Utama di Muka Bumi adalah Makkah Al-Mukarramah.

عن عبد الله بن عدي بن حمراء الزهري قال : رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم على راحلته واقفا بالحزورة يقول والله إنك لخير أرض الله وأحب أرض الله إلى الله ولولا أني أخرجت منك ما خرجت

Dari Abdullah ibn Uday ibn Hamraa Az-Zuhry berkata, "Saya melihat Rasulullah saw berdiri di atas unta tunggangannya sambil bersabda : Demi Allah, sesungguhnya engkau (Makkah) adalah bumi Allah terbaik, dan bumi yang paling dicintai oleh Allah, kalaulah mereka tidak mengusirku, sungguh aku tak akan keluar.." (HR. Ibnu Hibban dan At-Tirmidzi berkata : Hadits Hasan Shahih)

Kavling tanah paling utama adalah masjid-masjid

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ثم أحب البلاد إلى الله مساجدها

Dari Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda, "Negeri terbaik di sisi Allah adalah masjid-masjidnya dan negeri yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya" (Muslim 671)

Masjid Paling Utama

عن جابر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ثم صلاة في مسجدي أفضل من ألف صلاة فيما سواه إلا المسجد الحرام وصلاة في المسجد الحرام أفضل من مائة ألف صلاة فيما سواه

Dari Jabir ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, "Sholat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama 1000 kali dari pada sholat di masjid-masjid lainnya, kecuali Masjid Al-Haram, dan sholat di Masjid Al-Haram lebih utama 100.000 kali dari pada masjid-masjid lainnya." (Shahih Ibnu Majah oleh Al-Albany 1427)

2. Waktu-waktu Paling Utama
a. Bulan paling utama adalah bulan Ramadhan.
Allah SWT berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الّذِيَ أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لّلنّاسِ وَبَيّنَاتٍ مّنَ الْهُدَىَ وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَىَ سَفَرٍ فَعِدّةٌ مّنْ أَيّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدّةَ وَلِتُكَبّرُواْ اللّهَ عَلَىَ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu," (QS. Al-Baqarah:185)

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم أتاكم رمضان شهر مبارك فرض الله عز وجل عليكم صيامه تفتح فيه أبواب السماء وتغلق فيه أبواب الجحيم وتغل فيه مردة الشياطين لله فيه ليلة خير من ألف شهر من حرم خيرها فقد حرم

Dari Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda, "Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkati. Allah mewajibkan puasa di bulan itu. Dibukakanlah pintu-pintu langit dan ditutuplah pintu-pintu jahannam. Dirantailah pada bulan itu pergelangan syetan-syetan. Demi Allah di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa terhalang dari kebaikannya maka dia terhalang dari semua kebaikan..." (HR. An-Nasai : 2106 dan dishahihkan oleh Al-Albany)

b. Hari-hari paling utama adalah Sepuluh Hari Pertama bulan Dzulhijjah.
Allah berfirman,

وَالْفَجْر(1) وَلَيالٍ عَشْرٍ (2)

"Demi fajar (1) Demi malam yang sepuluh (2)" (QS. Al-Fajr:1-2)
Ibnu Abbas ra berkata, "Malam yang sepuluh adalah 10 malam pertama bulan Dzulhijjah" (Tafsir Ibnu Katsir 4/506)

وَيَذْكُرُواْ اسْمَ اللّهِ فِيَ أَيّامٍ مّعْلُومَاتٍ

Allah berfirman, "dan agar mereka mengingat Allah pada hari-hari yang telah diketahui.." (QS. Al-Hajj:28)
Ibnu Abbas berkata, "Maksudnya adalah hari yang sepuluh." (Tafsir Ibnu Katsir 3/236)
c. Malam-malam paling utama adalah 10 malam terakhir di bulan Ramadhan.

عن عائشة رضي الله عنها قالت ثم كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

Dari Aisyah ra, bahwasanya Nabi saw jika memasuki 10 malam terakhir (ramadhan) mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya (dengan Qiyamullail), dan membangunkan keluarganya." (HR. Bukhari : 1920 & Muslim : 1768)
Dan dalam riwayat Imam Muslim, "dan Rasulullah saw sangat bersungguh-sungguh (dalam beribadah) lebih dari kesungguhannya di hari-hari lain"

d. Hari paling utama sepanjang tahun adalah Hari Arafah (saat para haji wukuf di Padang Arafah).

وما من يوم أفضل عند الله من يوم عرفة ينزل الله إلى السماء الدنيا فيباهي بأهل الأرض أهل السماء فيقول أنظروا إلى عبادي شعثا غبرا ضاحين جاؤوا من كل فج عميق يرجون رحمتي ولم يروا عذابي فلم ير يوم أكثر عتقا من النار من يوم عرفة

Dari Jabir bin Abdullah ra, dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda, "Tidak ada hari yang paling utama di sisi Allah dari pada Hari Arafah. Pada saat itu Allah SWT turun ke langit dunia dan membanggakan penduduk bumi kepada penduduk langit sambil berfirman : Lihatlah kepada hamba-hamba-Ku dengan rambut kusut dan berdebu penuh pengorbanan, datang dari berbagai pelosok dunia mengharapkan rahmat-Ku dan mereka belum melihat adzab-Ku, dan masa tidak akan melihat orang yang dibebaskan dari neraka lebih banyak dari Hari Arafah.." (HR. Ibnu Hibban 3853, shahih li ghairih)



Dari Aisyah ra berkata : Rasulullah saw bersabda, " Tidak ada hari yang pada saat itu Allah membebaskan seorang hamba laki-laki atau perempuan lebih banyak dari pada Hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat dan membanggakan para hambanya kepada para malaikat sambil berfirman : Apa yang mereka inginkan.?" (Muslim 1348)
e. Hari paling utama dalam seminggu adalah Hari Jumat.
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw menyebutkan hari Jumat lalu bersabda, "Di dalamnya ada satu saat yang tidak akan seorang hamba muslim mendapatkannya dalam keadaan mendirikan sholat kemudian meminta sesuatu kecuali diberikannya." (HR. Bukhari & Muslim)
Adapun mengenai kapan adanya saat itu, para ulama berbeda pendapat ;
i. Setelah terbitnya fajar sampai terbitnya matahari
ii. Setelah tergelincirnya matahari
iii. Ketika muadzin mengumandangkan adzan untuk Sholat Jumat
iv. Ketika khatib duduk di antara dua khutbah sampai ia berdiri lagi.
v. Setelah Ashar sampai terbenamnya matahari.
f. Malam paling utama sepanjang tahun adalah Malam Lailatul Qodar
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qodar (1) Dan apakah yang kamu ketahui tentang lailatul qodar (2) lailatul qodar lebih baik dari 1000 bulan" (QS. Al-Qadr:1-3) Firman yang lain, "Sesungguhnya Kami (Allah) menurunkannya (Al-Quran) pada malam yang penuh berkah dan sesungguhnya Kami (Allah) Pemberi Peringatan" (QS. Ad-Dukhan:3)
Dari Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda, "Barang siapa yang bangun malam lailatul qodar dengan penuh keimanan dan introspeksi diri, diampuni semua dosanya yang terdahulu dan yang akan datang." (HR. Bukhari & Muslim)
g. Saat paling utama dalam satu malam
Dari Jabir ibn Abdullah ra berkata : saya mendengar Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya pada malam hari ada satu saat yang tidak seorang muslim mendapatkannya sambil meminta kebaikan dunia dan akhirat dari Allah SWT kecuali dikabulkannya. Dan itu terdapat pada setiap malam." (Muslim 757)
Dan saat itu biasanya terdapat pada sepertiga malam terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah saw, "Tuhan kita setiap malam turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir sambil berfirman : Siapakah yang berdoa kepada-Ku akan Aku kabulkan, siapakah yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya dan siapakah yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya..?" (Muttafaq Alaih)
3. Manusia Paling Utama
a. Allah telah menciptakan manusia, dan memberikan keutamaan kepada sebagian mereka di atas sebagian yang lainnya. Allah memberikan keutamaan kepada para nabi dan rasul di atas semua manusia. Dan memberikan keutamaan kepada para rasul di atas para nabi. Kemudian memberikan keutamaan kepada para rasul Ulul Azmi di atas para rasul lainnya. Lalu memberikan keutamaan kepada Nabi Muhammad saw di atas para rasul Ulul Azmi lainnya. Firman Allah SWT, "Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain." (QS. Al-Baqarah:253)
Rasulullah saw bersabda, "Saya adalah tuannya anak-anak Adam pada hari kiamat" (Muslim 2278)
b. Laki-laki paling utama setelah para nabi dan rasul adalah Abu Bakar As-Shiddiq lalu Umar bin Khattab ra.
Dari Ali bin Abi Thalib ra, bahwasanya Nabi saw melihat kepada Abu Bakar dan Umar lalu bersabda, "Mereka berdua ini adalah pemuka para sesepuh penghuni surga dari yang pertama sampai yang terakhir kecuali para nabi dan rasul. Jangan kamu beritahukan kepada mereka berdua, hai Ali" (At-Tirmidzi 3665 dan dishahihkan oleh Al-Albany)
Dalam riwayat lain disebutkan, dari Muhammad ibn Al-Hanafiyyah berkata : Saya bertanya kepada bapak saya (Ali bin Abi Thalib), "Siapakah orang terbaik setelah Rasulullah saw?" Dia menjawab, "Abu Bakar." Saya bertanya, "Kemudian siapa?" Dia menjawab, "Kemudian Umar." Saya khawatir dia akan mengatakan 'kemudian Utsman' maka saya katakan, "Kemudian kamu." Dia berkata, "Saya bukan apa-apa kecuali seorang laki-laki bagian dari umat Islam". (Bukhari 3468)
c. Wanita paling utama adalah Maryam, Asiyah, Khodijah, Aisyah dan Fatimah.
Dari Abu Musa, dari Nabi saw bersabda, "Banyak laki-laki yang telah sempurna (imannya), dan tidak ada yang sempurna (imannya) dari perempuan kecuali Maryam bint Imran, Asiyah istri Fir'aun, dan keutamaan Aisyah di atas wanita-wanita yang lain sebagaimana keutamaan tsarid di atas semua makanan." (Muttafaq Alaih)
Dari Ali bin Abi Thalib ra, bahwa dia mendengar Nabi saw bersabda, "Perempuan terbaik (masa lalu) adalah Maryam, dan perempuan terbaik (masa kini) adalah Khodijah" (Bukhari 3604)
Dalam sebuah hadits, "Fatimah adalah pemuka para perempuan penduduk surga." (HR. Bukhari)
4. Malaikat paling utama adalah Jibril as.
Allah menceritakan tentang Jibril as dalam firman-Nya, "sesungguhnya Al Qur'aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy." (QS. At-Takwir:19-20)
5. Kitab paling utama adalah Al-Quran Al-Karim
Allah telah memudahkan Al-Quran untuk dihafal, diturunkan dari generasi ke generasi secara mutawatir, dan Allah menjaganya agar jangan sampai terjadi perubahan atau penyelewengan isinya. Keistimewaan ini tidak didapatkan pada kitab-kitab yang lain, karena kitab-kitab itu temporer, terbatas untuk waktu tertentu. Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr:9)
Ajaran Al-Quran berlaku untuk manusia dan jin. Firman Allah SWT, "Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)." Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan." (QS. Al-Ahqaf:29)
6. Jihad paling utama
Dari Abu Said Al-Khodry ra berkata : Rasulullah saw bersabda, "Jihad paling utama adalah mengatakan yang adil (benar) di hadapan penguasa yang menyeleweng." (Abu Daud 3433, dan dishahihkan oleh Al-Albany)
7. Dzikir dan Doa paling utama.
Dari Jabir bin Abdullah ra berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, "Dzikir paling utama adalah Laa ilaaha illallah, dan doa paling utama adalah Alhamdulillah." (At-Tirmidzi 3383 dan Al-Albany mengatakan : Hadits Hasan)
8. Shodaqoh paling utama
Dari Hakim bin Hizam berkata : Rasulullah saw bersabda, "Shodaqoh paling utama adalah dari orang yang menginfakkan sebagian besar hartanya dan menyisakan sebagian kecil untuk dirinya, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, dan mulai memberi shodaqoh terhadap mereka yang menjadi tanggunganmu." (Muslim 1034)
9. Shalat yang paling utama
Dalam sebuah hadits dikatakan, "...shalat yang paling utama setelah sholat fardlu adalah sholat di tengah malam.." (Muslim 1163)
Hadits lain menyebutkan, "..sesungguhnya sholat paling utama adalah sholatnya seseorang di rumahnya sendiri kecuali sholat fardlu.." (Bukhari 697)
10. Puasa paling utama.
Dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah saw bersabda, "Puasa paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa bulan Muharram.." (Muslim 1163)
Rasulullah saw bersabada, "Puasa paling utama di sisi Allah adalah puasa Daud as, dia puasa satu hari dan berbuka satu hari.." (Muslim 1159)
11. Uang / Harta yang paling utama
Dari Tsauban ra berkata : Rasulullah saw bersabda, " Harta yang terbaik adalah yang diinfakkan seorang lelaki untuk keluarganya, dan harta yang diinfakkan seorang lelaki untuk kendaraannya di jalan Allah, serta harta yang diinfakkan seorang lelaki kepada para sahabatnya di jalan Allah." (At-Tirmidzi 1966 dan dishahihkan oleh Al-Albany)
12. Muslim paling utama
Dari Utsman bin Affan ra berkata : Rasulullah saw bersabda, "Orang yang paling utama di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya." (Bukhari 4740)
13. Air paling utama
Dari Ibnu Abbas ra berkata : Rasulullah saw bersabda, "Sebaik-baiknya air di muka bumi adalah air zamzam, di dalamnya terdapat makanan untuk menghilangkan lapar, dan penyembuh dari penyakit." (HR. At-Thabrany & Ibnu Hibban serta dishahihkan oleh Al-Albany)
Inilah berbagai keutamaan yang sempat penulis kumpulkan pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Wallahu A'lam

HAKEKAT AHMAD BADAWY


Sayyid Ahmad Badawy adalah sebuah nama yang terkenal di Mesir sebagai seorang wali Allah. Di Kota Tanta, di sebelah barat Mesir, kita bisa melihat kuburannya yang berada di dalam masjid yang diberi nama sama dengan namanya, banyak dikunjungi orang dari berbagai kalangan dan berbagai niat. Untuk itu, adalah sebuah kewajiban kita untuk mengetahui hakekat dari Sayyid Badawy ini, dan apa yang menjadikannya menjadi orang yang sangat dikenal, sehingga kuburannya tidak pernah sepi dari para penziarah.

Riwayat Singkat Pertumbuhan Sayyid Badawy

Namanya adalah Ahmad bin Ali bin Ibrahim bin Muhammad Al-Badawy, dilahirkan di kota Faas, Maroko, pada tahun 596 H / 1200 M, meninggal tahun 675 H / 1276 M. Syaikh Mustafa Abdurraziq—Syaikh Al-Azhar dan Guru Besar Filsafat di Cairo University—telah merujuk kepada literatur (makhtutot) Maroko dan mendapatkan pengingkaran bahwa Ahmad Badawy adalah seorang sufi. Malah terbukti bahwa dia adalah seorang Syiah Alawy Ismaily pengikut Dinasty Fatimiyah di Mesir. Ali Badawy—bapaknya—adalah seorang Syiah Alawy Ismaili yang mengungsi ke Makkah, sebab orang-orang syiah di Maroko mendapatkan tekanan dari suku Barbar, setelah jatuhnya Dinasti Fatimiyah.

Setelah jatuhnya negara syiah di tangan Sholahuddin Al-Ayyubi, kaum syiah mencoba mendirikan kembali negara mereka dengan cara menyebarkan pemahaman dan aqidah mereka yang menyimpang. Untuk menutupi dan mempermudah gerakan, mereka memakai selubung zuhud dan tasawwuf. Sehingga mereka berhasil mengadakan muktamar di Makkah pada tahun 603 H untuk mengembalikan negara Syi'ah Batini.

Disebutkan bahwa Ahmad Badawy hafal Al-Quran dan mempelajari Fiqh Syafii, serta meninggalkan banyak tulisan-tulisannya yang menunjukkan betapa luas pengetahuannya. Tapi pada hakekatnya, dia tidak meninggalkan tulisan apapun kecuali beberapa nasehat dan wasiat, serta syair-syair yang menetapkan adanya sifat ketuhanan pada dirinya, serta mencampur adukkan antara tasawwuf dan syiah.

Sebelum Badawy menetap di Tanta, pada tahun 634 H / 1236 M dia pergi ke Irak dengan kakaknya—Hassan—untuk mengunjungi pusat tasawwuf syiah yang didirikan oleh Ahmad al-Rifa'i yang meninggal tahun 570 H / 1174 M. Dia mengatakan, bahwa kepergiannya ke Irak berdasarkan perintah yang didapatnya dalam mimpi ketika tidur di samping Kabah. Tapi Dr. Ahmad Asyur melihat, bahwa riwayat yang diceritakan oleh para penulis kehidupan Badawy ini adalah sebuah hal yang berlebihan, dengan tujuan untuk meyakinkan para pengikutnya bahwa segala apa yang dilakukan oleh Sayyid Badawy ini adalah berdasarkan ilham dari Tuhan . Dalam perjalanannya ke Irak, dia sempat menziarahi kuburan Al-Hassan bin Mansur Al-Hallaj yang dieksekusi tahun 319 H berdasarkan fatwa para ulama sezamannya karena keyakinan wihdatul wujudnya yang sesat.

Dari sana dia pergi menuju Al-Kazhimiyah untuk menziarahi kuburan-kuburan Imam Syiah, lalu menuju utara Irak untuk menziarahi kuburan Uday bin Musafir al-Hikary (557H) pendiri Tarekat Al-Adawiyah dan diteruskan ke Mousul. Dalam riwayatnya, Badawy mengakui bahwa di tengah perjalanan dia sempat mematikan dan menghidupkan kembali orang-orang berbuat jelek kepadanya. Setelah itu melanjutkan perjalanan ke Umm Ubaidah tempat beradanya makam Ahmad Al-Rifa'i.

Para peneliti berpendapat bahwa kepergian Badawy ke Irak adalah atas perintah dari kaum Alawy, agar ia mendapatkan bekal dakwah dari seorang sufi syiah Ibnu Arab, yang dikenal dalam Thabaqot Rifa'iyyah sebagai Syaikh Barri, yang merupakan murid Al-Rifa'i. Dari sana, Badawy belajar bagaimana bisa terlihat sebagai seorang yang linglung dan zuhud . Irak pada waktu itu adalah Sekolah Syiah yang berselubung tasawwuf. Setelah selesai belajar dari sana, Badawy kembali ke Makkah dengan penampilan yang baru dan menarik perhatian, sebagai hamba yang selalu bangun malam sambil menatap langit sehingga hitam matanya memerah, dan tidak makan serta minum selama 40 hari..

Tak berapa lama sesampainya di Makkah, ia mengaku bahwa datang ilham yang menyuruhnya untuk segera pergi ke Tanta. Namun para peneliti mengatakan, bahwa kepergian Baday ke Mesir atas perintah kaum Alawy Syiah untuk menyebarkan ajaran mereka di sana, dan mengembalikan kejayaan Dinasti Fatimiyah. Apalagi setelah dieksekusinya penyair Omaroh el-Yamany dan pengikutnya tahun 569 H / 1173 M setelah tersingkap konspirasi mereka untuk melawan Shalahuddin Al-Ayyubi, juga kematian Da'i Syiah, Abul Futuh el-Wasity pada tahun 635 H / 1237 M di Aleksandria.

Dalam hal ini, Syeikh Mustafa Abdur Raziq berkata, " Kaum Alawy tidak mendapatkan orang yang lebih mumpuni dibanding Sayyid Badawy untuk tugas seperti ini sebagai utusan rahasia bagi Sufi Syiah. Maka diarahkanlah ke Mesir. Sebelum dia sampai ke Mesir, telah datang setahun sebelumnya—637—H Izzuddin al-Sayyad (670 H / 1271 M), seorang Sufi Syiah, pemimpin Tarekat Rifa'iyyah, untuk mencari tempat yang sesuai bagi Badawy untuk melancarkan dakwahnya.

Sesampainya di Tanta, dia menetap di loteng rumah Rakin el-Din, di dekat Masjid Al-Boushah yang sekarang dikenal sebagai Masjid Al-Bahy. Dia selalu berteriak dari loteng itu agar semua orang tahu kelinglungannya. Abdul Samad Zainuddin el-Ahmady berkata, "Dia tinggal di loteng dan tidak pernah meninggalkannya baik siang maupun malam. Sewaktu-waktu dia berteriak-teriak secara terus menerus. Badawy memakai pakaian orang linglung, dan selalu menutupi mukanya dengan kain. Jika ia memakai sorban di kepalanya, tidak pernah mencucinya sampai sorban itu hancur, lalu diganti dengan sorban yang lain.."

Diriwayatkan oleh Al-Hafidh Al-Sakahwy dalam kitabnya "Al-Dlou' Al-Laami' ", Bahwasanya Ibnu Hayyan bersama Pangeran Nasiruddin bin Jankaly mengunjungi Badawy pada hari Jumat, dan di sekitarnya orang-orang yang mendatanginya dari berbagai tempat untuk meminta keperluannya. Kemudian mereka berhenti di Masjid Jami' Tanta, dan duduk menunggu sholat. Ketika Khatib selesai khutbah Jumat, Badawy berdiri dan menutup kepalanya dengan kerah bajunya sehingga terlihat auratnya di hadapan manusia, lalu ia buang air kecil di bajunya dan di tikar masjid, kemudian duduk dengan kepala terus terbenam di kerahnya sampai selesai sholat dan dia tidak sholat.

Fase Dakwah Badawy

Fase dakwah Badawy terbagi menjadi dua fase :

Pertama : Pada akhir masa pemerintahan Ayubiyun.
Masa ini bisa disebut sebagai masa permulaan munculnya dakwah Badawy yang dimulai pada tahun 637 H. Pada waktu itu, Badawy tinggal di loteng selama 12 tahun. Kadang-kadang dia diam seribu bahasa, kadang-kadang dia berteriak-teriak untuk menunjukkan kelinglungan dan kegilaannya. Namun bukan berarti dia tidak melakukan apa-apa. Pada masa tersebut dia berhasil mendidik pengikutnya yang setia yang berjumlah 40 orang dan bergelar Al-Sathiyyuun (dinasabkan ke loteng tempat mereka mendapatkan ajaran) sebagaimana yang diriwayatkan Abdul Wahhab Al-Sya'rony. Lalu mereka disebar ke berbagai tempat untuk menyebarkan ke semua orang tentang karomah dan kesaktiannya.

Diantara orang yang disebarkan oleh Badawy adalah Syaikh Yusuf Al-Inbabi, ke Imbabah, Syaikh Sa'duun ke Bilbis, Ali Al-Kurany ke Yaman, Syaikh Izzuddin ke Mousol dll. Badawy mengatakan kepada Abdul Aal—penggantinya—agar mengirim mereka ke tempat-tempat yang telah ditetapkan, dan tidak boleh meninggalkannya sampai mati. Pada masa ini, dakwah Badawy berjalan pelan tapi pasti, sehingga dia mempunyai banyak pengikut di Mesir, Syam, Hijaz dan Yaman. Hubungan rahasia antara tempat-tempat tersebut dengan pusat dakwah di Tanta terus berlanjut. Ketika Syaikh Rakin Al-Din meninggal, ia pindah dan tinggal di Daar Ibnu Sakhith—tokoh masyarakat—sampai akhir hayatnya.

Kedua : Pada Masa Pemerintahan Mamalik
Pada fase kedua ini, Badawy mendapatkan pengawasan yang ketat, terutama dari Al-Dhohir Bibris yang baru saja menghadapi konspirasi syiah di bawah pimpinan Al-Kurany, sebagaimana Mesir juga sedang menghadapi agresi salibis dipimpin oleh Louis IX yang berhasil menduduki Dumyat. Belum ditambah bahaya serangan dari Mongol.

Syaikh Mustafa Abdurrazik berkata, "Badawy segera merasa bahwa dia dikelilingi mata-mata dan Al-Dhahir Bibris telah mengetahui niatnya. Dia segera berbalik mengajar Nahwu dan Sharaf, dan membacakan pelajaran Fiqh, serta bertahun-tahun lamanya tidak mengadakan pertemuan dengan Sutuhiyyun secara terbuka."

Jika pada fase pertama, ambisi politik Badawy telah berhasil dengan mengantarkan Al-Dhahir Bibris sebagai pemimpin Mesir, namun hal itu berbalik menjadi bumerang ketika Al-Dhahir Bibris menghadapi makar syiah. Konspirasi ini terjadi ketika Bibris sibuk berjihad melawan serangan Mongol pada tahun 657 H. Kewaspadaan Bibris yang amat sangat telah membuatnya curiga terhadap Al-Izz bin Abdissalam hanya karena dia berteman dengan Abu Hasan Al-Syadzily.

Pada awal mulanya, Al-Dhahir Bibris menugaskan Kepala Qady, Ibnu Daqiq Al-Ied untuk mengawasi gerak-gerik Badawy dan menyingkap ambisi politiknya. Namun, kemudian dia merasa tidak puas dengan hasil yang didapatnya, maka dia mengawasi sendiri Badawy dengan cara sembunyi-sembunyi dan menyamar. Dia pergi ke semua tempat yang diduga sebagai pusat pergerakan Badawy, serta memecat semua gubernur yang bekerja sama dengan Badawy.

Bukti Yang Menunjukkan Adanya Strategi Syiah di Belakang Badawy

1. Badawy menggunakan tipu daya dan penyamaran

a. Badawy menyamar dengan baju orang yang linglung / stress
Hal itu dilakukan setelah dia belajar di Madrasah Al-Rifa'i bagaimana agar terlihat linglung, untuk menyembunyikan dirinya sebagai Da'i Syiah. Karena mayoritas orang Mesir merasa bertoleransi terhadap mereka yang stress / linglung. Syaikh Al-Nahwy meriwayatkan, bahwasanya dia bersama sekumpulan muridnya pergi ke Tanta, kemudian duduk di bawah dinding loteng tempat tinggal Badawy. Lalu keluarlah Badawy, dan kencing di atas kepala-kepala mereka. Ditambah dengan segala tindakan Badawy yang sering dikaitkan dengan wahyu, seperti perkataan, " Datang sebuah panggilan dalam mimpinya untuk pergi ke Irak.." dll.

b. Hal yang mencurigakan seputar kepergiannya ke Tanta
Hal yang membuktikan bahwa kedatangan dia ke Tanta bukanlah kebetulan, tapi suatu yang direncanakan, adalah lokasi Tanta sebagai daerah yang terpencil dari ibu kota dan jauh dari pengawasan pemerintah. Sehingga Badawy dapat bekerja tanpa ada yang menyadarinya. Selain sejarah menunjukkan, bahwa Tanta pada zaman Dinasti Fatimiyah merupakan Ibu kota daerah, pada masa Al-Mustansir (427 – 487 H). Ditambah dengan kedatangan Izzuddin Al-Sayyaad setahun sebelum kedatangannya untuk menyiapkan lingkungan agar siap menerima Badawy.

c. Selalu tutup mulut terutama di hadapan orang asing, dan hanya menunjukkannya dengan bahasa isyarat.
d. Tidak mau menemui dua orang dalam waktu yang sama, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Mustafa Abdurrazik.
e. Kematian Abdul Hamid yang misterius
Legenda mengatakan bahwa Abdul Hamid, salah seorang murid Badawy, mati karena bersikeras untuk melihat wajah Badawy tanpa penutup muka. Abdul Hamid adalah salah seorang Sutuhiyyun pemula dan merupakan kakak dari Abdul 'Aal, pengganti Badawy. Padahal, adiknya Badawy—Al-Syarif Hassan—tidak terpengaruh apa-apa karena melihat wajah Badawy, saat mereka bertemu kembali di Makkah. Selain pada keluarganya, Badawy selalu menutup muka, bukan hanya dengan satu kain, tapi dengan dua kain. Hal itu menunjukkan bahwa rahasia yang di bawa oleh Badawy sangatlah besar. Mungkin saja, Abdul Hamid mengetahui rahasia yang ditakutkan Badawy akan bocor, maka dibunuhlah dia. Namun hal itu berubah menjadi legenda bahwa Abdul Hamid mendapatkan hal didapatkan Nabi Musa as ketika ingin melihat Allah SWT.

2. Hubungan antara Badawy dengan para da'i syiah di dunia

a. Menggunakan kata sandi dalam surat menyuratnya, dan mengaku bahwa itu adalah bahasa Suryani.
Al-Sya'rany mengatakan, "Badawy bisa berbicara bahasa 'Ajam (selain Arab), bahasa Suryani, Bahasa Ibrani, Bahasa Negro dan semua bahasa hewan liar dan burung-burung."

b. Mengaku bernasab kepada Nabi saw
Mengakui bernasab kepada Nabi merupakan kebiasaan buruk Dinasti Fatimiyah, yang diteruskan oleh gerakan syiah lainnya.

c. Tersangka merencanakan konspirasi melawan ummat
Badawy tidak bisa mencapai tujuan politiknya, karena Al-Dhahir Bibris sangat waspada, dan berpengalaman dalam menghadapi syiah batini. Oleh karena itu, setelah kematian Badawy, para pengikutnya berusaha mengadakan konspirasi untuk menggoncang pemerintahan yang ada. Diantaranya konspirasi Abdul Ghaffar bin Nuh, yang melancarkan pembakaran 60 gereja di Mesir dalam waktu yang sama, dan dengan cara yang sama, yaitu semuanya dibakar pada saat Sholat Jumat pada tahun 721 H, pada masa Al-Nasir Muhammad Qolawun. Abdul Ghaffar bin Nuh adalah salah seorang murid Abu Al-Abbas Al-Mulatsam, pendamping Badawy dalam dakwahnya.

d. Kemiripannya dalam menganggap remeh syiar-syiar agama
Seperti meninggalkan sholat, dan membodohi manusia dengan mengatakan bahwa kewajiban ibadah telah jatuh bagi siapa saja yang telah mencapai derajat tertentu. Bukti yang nyata, adalah tindakan sebagian mereka, seperti Syaikh Tajuddin al-Dzakir yang berwudlu setiap tujuh hari sekali, dan pada akhir hidupnya setiap 11 hari sekali. Bahkan Abu Sa'ud al- Jarihi, berwudlu pada awal Ramadlan, dan tidak berwudlu lagi kecuali setelah enam hari setelah iedul fitri.

e. Kemiripannya dalam menyebarkan dekadensi moral melalui ;
i. Peringatan Maulid. Pada saat ini terjadi ikhtilath (campur baur) antara laki-laki dan perempuan, dan mereka tidak menjaga percampuran bebas, karena kemurahan dan syafaat Badawy akan mengampuni mereka. Al-Sya'rany mengatakan, bahwa siapa saja yang mengingkari peringatan maulid Badawy akan mendapatkan bencana yang diantaranya dicabutnya baju keimanan darinya.
Seorang ahli sejarah Mesir, Al-Jabarty mengatakan, "Sebagian penziarah peringatan maulid bertujuan untuk berbuat kefasikan, bahkan orang-orang sufi miskin dari tarekat Ahmady (pengikut Badawy) menghalalkan bagi diri mereka untuk merampok toko, mencuri manusia, dan memakai harta orang lain dengan cara tidak halal pada saat itu. Argumen mereka, bahwa Gharbiyyah (provinsi beradanya kota Tanta) adalah negeri Badawy, dan kami adalah orang-orang miskin negeri ini, maka apa yang kami ambil adalah halal bagi kami."
Sebagaimana sebagian fihak yang mengambil manfaat menyebarkan pernyataan, bahwa barang siapa yang berhaji ke makam Badawy dan dia percaya, pasti akan terkabul keinginannya dan terlaksana tujuannya.
ii. Mempersaudarakan antara perempuan dan laki-laki yang bukan mahram dalam tarekat tasawwuf.
Al-Sya'rany berkata, "Sesungguhnya pengikut Tarekat Al-Ahmadiyah (Ahmad Badawy), pengikut Tarekat Al-Barhamiyah (Ibrahim Al-Dasuki) dan pengikut Al-Qadiriyah (Abdul Qadir Jaelani) mengambil janji seorang perempuan, kemudian ramai-ramai menggaulinya tanpa sepengetahuan suaminya.." Artinya mereka menjadikan tasawwuf sebagai jalan untuk mengeksploitasi perempuan dengan dalih bahwa ia telah menjadi anaknya atau saudaranya dalam tarekat.
Seorang Sufi yang faqih, Ibnu Al-Hajj, mengecam bid'ah yang dimunculkan tarekat Al-Ahmadiyah, dengan perkataannya, "Mereka mempersaudarakan antara laki-laki dan perempuan, bahkan sebagian perempuan tinggal satu atap dengan sebagian laki-laki dengan alasan bahwa mereka adalah saudara dari Syaikh."
iii. Mendorong untuk menampakkan aurat dan pergaulan bebas
Sebagai contoh, apa yang dikatakan Al-Sya'rany, "Ketika saya menikahi istri saya Fatimah, dia adalah seorang perawan dan saya tidak menggaulinya selama lima bulan. Kemudian datanglah Badawy, membawa saya dan istri saya, kemudian membentangkan tikar di atas tiang kubah di sebelah kiri dalam. Lalu dia memasak manisan untuk saya, dan mengajak orang, baik yang masih hidup maupun yang mati, untuk menyantapnya. Kemudian dia berkata : Hilangkan keperawanannya di sini. Dan pada malam itulah saya menggauli istri saya untuk pertama kali.."

Masjid Badawy dan Penyelewengan Aqidah di Dalamnya

A. Hal yang mencurigakan seputar pendirian Masjid Badawy
Masjid Badawy belum didirikan pada masa hidupnya, karena dia tidak menjaga sholat jama'ah. Namun yang mendirikannya adalah Abdul 'Aal, penggantinya. Pada awal mulanya, masjid itu hanya berupa tempat menyepi di samping kuburannya. Kemudian dijadikan zawiyah olehnya sebagai tempat persinggahan para pengikutnya. Selanjutnya dijadikan mesjid yang megah oleh Ali Bek Al-Kabir (1182 – 1186 H), orang yang mendirikan masjid, kubah-kubah serta hiasan dari kuningan sekitar makam dan mewakafkan segala hal untuk keperluan masjid. Siapakah yang mendalangi pembangkangan Ali Bek Al-Kabir atas Khalifah dengan mendirikan masjid ini? Pada masa Anwar Sadat, masjid ini mengalami perluasan, dan pada saat yang sama, Sadat juga memerangi gerakan-gerakan pemurnian aqidah Islam..

B. Sebagian penyimpangan yang terjadi dalam Masjid Badawy
Setiap sholat selalu didirikan dua jama'ah yang dipimpin oleh imam yang berbeda. Pertama, jama'ah di makam dan kedua jama'ah umum, mereka mengadakan sholat pada saat yang bersamaan. Di dalam ruangan makam, banyak orang yang bertawaf sekeliling kuburan sambil mengusap-usap pagar sekeliling makam. Ada juga mereka yang bertawassul, bermunajat, serta memohon keinginannya kepada Badawy. Nampak keyakinan dari para penziarah, bahwa Badawy akan mengabulkan keinginannya. Oleh karena itu, Badawy dijuluki Abu al-Faraj.

C. Ibadah Haji antara Ka'bah dan kuburan Badawy
Kita akan melihat banyak orang yang datang untuk bersa'i dan bertawaf dengan tahlil dan takbir serta menyembelih kurban di makam Badawy. Bahkan mereka menaruh sebuah batu yang menyerupai Hajar Aswad di makam. Setelah mereka selesai 'berhaji' mereka memberikan hadiah, baik berupa sembelihan atau lainnya, sebagaimana orang berhaji di Makkah.

D. Musuh-musuh Islam dan mereka yang berkepentingan mendukung khurafat seputar Badawy dan masjidnya
Sebagai misalnya, apa yang tertulis dalam Dairoh Ma'aarif Al-Islamiyah (Ensiklopedi Islam) yang dikeluarkan oleh para orientalis, dalam Juz I halaman 468 tentang Sayyid Badawy, bahwasanya dia "adalah Wali Allah di Mesir yang terbesar, yang bisa menghilangkan segala bencana dan kesusahan sejak waktu yang lama.." Sebagaimana yang berkepentingan menyokong legenda yang bercerita tentang Badawy sehingga kuburannya menjadi kiblat pengganti. Dalam hal ini, Al-Sakhawy mengatakan dengan mantap, "Datang para haji tahun ini ke makam Badawy dari Syam, Halab dan Makkah lebih banyak dari Haji ke Haramain.."

Sikap Syariah Atas Penyelewengan Ini

Mukmin sejati adalah orang yang selalu khawatir atas dirinya dan tidak pernah menganggap dirinya suci,
"...maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa."
Orang Yahudi mengganggap dirinya suci maka mereka berhak mendapatkan kemurkaan Allah,
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya suci? Sebenarnya Allah mesucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun. Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka)."

Wali Allah adalah orang yang mengikuti syariahnya, lahir dan batin, mengerjakan kewajibannya dan menjauhi hal-hal yang diharamkan. Adapun orang yang menampakkan diri sebagai orang linglung atau gila kemudian melaksanakan hal-hal yang haram dan tidak melaksanakan kewajiban, mereka bukanlah Wali Allah. Sebab gila adalah kebalikan berakal, sedangkan seseorang akan dikatakan beriman jika dia berakal sehat. Wali Allah adalah orang-orang yang mendekatkan diri dengan mengerjakan hal-hal yang disunnahkan Rasulullah saw, dan bukan mereka yang meninggalkan kewajiban agama.

Penutup
Setelah kita mengetahui hakekat Sayyid Badawy beserta Masjidnya, juga kemunkaran yang ada di dalamnya, maka adalah kewajiban bagi setiap muslim dan mukmin yang ingin menjaga kemurnian aqidahnya untuk mengambil sikap tegas, sesuai ajaran Al-Quran dan As-Sunnah.

Wallahu A'lam

Rab'aah 16092005/12081426

Monday, July 31, 2006

Nisaa

Problematika Hijab

Makalah ini merupakan terjemahan dari Majalah Al-Bayan edisi 197, Muharram 1425 H, yang ditulis oleh DR. Adnan Ali Ridlo An-Nahwy dengan judul “Ma'a Qodliyah Al-Hijab”. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita semuanya, Amiin.

Presiden Perancis, Chiraq, memutuskan pelarangan berhijab bagi para muslimah di sekolah-sekolah Perancis. Berbagai penulis, surat kabar dan mass media lainnya mengomentari, menentang serta mengecam keputusan ini. Namun Syaikh Al-Azhar, DR. Muhammad Sayyid Al-Thanthawy telah mengejutkan dunia dengan fatwanya yang mengatakan bahwa Perancis mempunyai hak untuk mengeluarkan keputusan semacam ini, dan setiap muslimah berkewajiban mentaati keputusan ini selama mereka hidup di Perancis, dengan alasan ‘dharurah’. Sehingga nampak disini bahwa makna dharurah dalam Islam telah hilang dihadapan Syaikh Al-Azhar.

Setelah problem yang ada adalah bagaimana melawan Presiden Perancis, sekarang menjadi bagaimana melawan Thanthawy dan Chiraq. Amerika, Inggris, Kaum Katholik di Perancis, dan Vatikan menganggap bahwa Perancis tidak mempunyai hak untuk mengeluarkan keputusan semacam itu, sesuai dengan pedoman Demokrasi Sekuler dan ajaran Nasrani. Maka timbullah berbagai sanggahan terhadap pernyataan Thanthawy dari para syeikh Azhar dan dari para umat Islam di Dunia Islam, sebagaimana mereka telah melawan Chiraq.

Problematika Hijab di Perancis adalah problem lama yang muncul pada permulaan abad ke 15 H / akhir abad ke 20 M. Problem itu muncul ketika beberapa sekolah Perancis men-drop out beberapa siswi muslimah, karena mereka bersikeras untuk berhijab. Umat Islam mulai menentang hal itu dari daerah ke daerah, dari level ke level tanpa menghasilkan apapun. Problem itu terus berlangsung seiring kerja keras umat Islam Perancis, sampai hari ini ketika Chiraq mengeluarkan keputusan terakhir, dan Syaikh Al-Azhar mendukungnya.

Apa sebab munculnya problem ini? Banyak orang mengembalikan problem ini kepada tantangan atas keberadaan Islam dan umatnya. Tetapi saya ingin menunjukkan sebab utama munculnya problem ini dalam pandangan saya. Yaitu adanya rentetan fenomena ‘mengalah’ (tanazul) dari umat Islam sepanjang sejarah yang cukup panjang. Baik itu di Dunia Islam, ataupun di Barat, maupun di Perancis sendiri.

Saya pernah mengikuti Konferensi Islam di Perancis, beberapa tahun yang lalu. Saya dikejutkan oleh beberapa ide yang dikemukakan waktu itu bahwa Sekulerisasi sama dengan Islam. Ide semacam ini diterima oleh beberapa da'i muslim dengan dukungan dan penjelasan. Sehingga salah seorang diantara mereka berkata, "Kita tidak ada pilihan lain kecuali kita berbaur dengan prototype Perancis dalam berbudaya dan beragama.." Ucapan ini terus berulang di berbagai tempat yang berbeda, di antaranya dalam dialog antara saya dengan mereka secara koresponden, maupun di kediaman saya di Riyad yang disaksikan sejumlah da'i. Sikap mengalah ini sebagiannya berakhir dengan dianutnya sistem sekuler di beberapa negara Islam dan dilarangnya hijab serta dilarangnya beberapa hukum syari'ah.

Sikap berlepas diri yang berkepanjangan ini telah membentuk kekuatan spiritual mayoritas Dunia Barat untuk berani menentang Islam dan umatnya dalam masalah Hijab dan yang lainnya, ketika mereka melihat sebagian umat Islam mengalah dari keislamannya sedikit demi sedikit. Sehingga tersedia kesiapan dari sebagian umat Islam untuk berlepas diri dari Islam lebih lanjut.

Ditambah dengan beberapa fatwa dari umat Islam yang terkesan lemah dan tidak serius. Sehingga muncul di Perancis seruan untuk mengganti Huruf Arab dengan Huruf Perancis, yang didukung oleh sejumlah keturunan Arab Muslim. Sebagian yang mengaku Islam menuntut untuk menggantikan Bahasa Al-Quran dengan Bahasa Pasaran (‘Amiyah), dan kejadian-kejadian lain yang tidak mungkin disebutkan semuanya.

Adapun pendapat Syaikh Thanthawy—saya malu untuk menyebutnya sebagai fatwa—telah membuat kita shock, ketika pendapat yang menyelisihi Islam secara keseluruhan ini keluar dari sosok Syaikh Al-Azhar. Padahal Al-Azhar telah berabad-abad menjadi simbol perjuangan Islam dan umatnya.

Kesalahan besar yang diambil oleh Syaikh Al-Azhar, bahwa yang menjadi kewajibannya adalah membicarakan kepada setiap orang tentang Islam, syari'atnya dan hukum-hukumnya, serta untuk menyampaikan agama Allah sesuai dengan yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw, dan mendakwahi manusia kepadanya. Islam agama Allah dan agama semua Nabi dan Rasul as. Islam merupakan ajaran kepada semua manusia, termasuk Syaikh Al-Azhar dan Chiraq. Jika salah seorang bermaksiat terhadap Rabb-nya dan menyalahi risalahnya, apakah kita akan membenarkannya?

Syaikh Al-Ahar tidak punya hak untuk membenarkan aliran yang menyeleweng dari agama yang benar, memberikan alasan untuk keberadaannya, dan memberikan peluang kepada seorang muslim untuk menyeleweng dari dienullah. Perancis dan negara lainnya tidak berhak untuk mengeluarkan undang-undang yang menyelisihi syariat Allah. Jika mereka melakukan hal itu berdasarkan kekuatan dan sekulerisme mereka, maka Syaikh Al-Azhar atau muslim manapun tidak berhak untuk untuk menerimanya, mendukungnya atau berhukum kepadanya.

Sekulerisme beranggapan bahwa negara tidak ikut campur dalam urusan agama manusia. Setiap orang bebas mengikuti agama yang diingininya. Namun demikian, negara-negara sekuler membiarkan gerakan kristenisasi dan menyokongnya dengan dana, media, dll. Padahal Islam sebagai satu-satunya agama yang diakui di sisi Allah, menjadikan kewajiban utama negara adalah menjaga agama Islam, menegakkan syariahnya, dan berdakwah kepadanya sebagaimana yang diturunkan kepada Muhammad saw. Allah berfirman,

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih kaum yang telah diberi Al-Kitab kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) diantara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS.3:19)

“Apakah mereka mencari selain agama Allah? Padahal segala apa yang ada di bumi dan di langit berserah diri kepada-Nya, baik suka rela maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.” (QS.3:83)

“Barangsiapa yang mencari selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima agamanya tersebut, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS.3:85)

Kita perhatikan dari berbagai sanggahan terhadap Syaikh Al-Azhar dan Chiraq, bahwasanya mereka yang mengeluarkan sanggahan tersebut berhukum kepada sekulerisme, undang-undangnya, dan berhukum kepada kebiasaan serta undang-undang yang tidak ada sangkut pautnya dengan Islam. Sesungguhnya kewajiban setiap muslim, termasuk Syaikh Al-Azhar, untuk mengembalikan segala problematika besar maupun kecil kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Juga mengeluarkan ide yang didukung dengan argumentasi dan petunjuk dari Al-Quran dan As-Sunnah. Setelah itu tidak mengapalah kita menyanggah mereka berdasarkan seklurisme dan demokrasi mereka. Tapi, mana demokrasi yang mereka akui? Yang ada hanyalah permusuhan, penjajahan, dan perampasan kekayaan bangsa lain. Semuanya hanyalah slogan bohong di setiap tempat untuk menipu umat Islam sebagaimana mereka telah tertipu dengan slogan-slogan lainnya.

Kita sadar bahwa kita sekarang lemah. Namun kelemahan kita tidak menghalalkan untuk pengubahan agama Allah, melepaskan diri darinya serta mengabaikan sebagian ajarannya demi untuk mendapatkan perhatian fihak selain Allah. Seharusnya setiap muslim sadar, bahwa bagaimanapun mereka mengabaikan ajaran agamanya untuk menarik perhatian kaum sekuler, sesungguhnya hal itu tidak akan menghasilkan kasih sayang mereka. Bahkan dia hanya akan kehilangan dua hal :

1. Kehilangan Ridlo Allah.

2. Kehilangan Wibawa Di Hati Mereka. Lalu menjadi bagian dari orang-orang yang merugi.

Sebagaimana Firman Allah SWT di QS.3:85.
Walaupun seorang muslim berusaha sedemikian rupa untuk mendapatkan perhatian mereka, sesungguhnya mereka tidak akan pernah ridlo..
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridlo kepadamu, sampai kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah adalah petunjuk yang sebenarnya.’ Dan jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datan kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi peliondung dan penilong bagimu.” (QS.2:120)

Keputusan untuk melarang muslimah berhijab di sekolah-sekolah Perancis adalah hawa nafsu belaka yang tidak bersandarkan agama atau ilmu atau moral. Apakah Syaikh Al-Azhar lupa ayat ini kemudian mengikuti nafsu mereka?

Kita menyeru Syaikh Al-Azhar untuk bertaubat kepada Allah atas fatwanya tadi. Sesungguhnya fatwanya tersebut telah keluar dari batasan fatwa menuju maksiat dan dosa. Maka bertaubatlah dan mengumumkan taubatnya sebelum beliau bertemu Allah dalam keadaan merugi, dan tidak ada penolong serta pelindung baginya di hadapan Allah.

Kita katakan kepada umat Islam di Perancis dan selainnya, tetaplah pada agama Allah dengan keimanan, keilmuan, berdakwah dan menyampaikan diatas pedoman yang terang, apapun resikonya. Ketahuilah bahwa hal yang dlarurat dalam syariah adalah hal yang mengancam kita kepada kelaparan, kehausan, kematian dan semisalnya saja. Dan dlarurat itu untuk perorangan dan tidak untuk sebuah jamaah atau seluruh umat agar mengabaikan agama Allah.

Kita katakan kepada seluruh umat Islam, cukuplah pengabaian kalian. Tampakkanlah yang Haq, agama Allah, Islam, Keimanan, Keilmuan dan Ketakutan terhadap Allah dan bukan ketakutan terhadap manusia. Berdakwahlah kepada Agama Allah dan tampakkanlah agamamu. Sesungguhnya itulah sumber kekuatan kita, dan sebab keselamatan kita. Tampakkanlah agama yang benar dan jangan menyeleweng serta mengabaikannya apapun kondisinya. Jika tidak maka tunggulah kehancuran, tunggulah kehancuran!

Kasus di Perancis dan negara lainnya bukanlah problem Hijab, tapi problem Islam dan ajarannya, problem iman kepada Allah dan agama-Nya.

Sesungguhnya Allah tidak memberikan hak kepada seseorang untuk kafir kemudian selamat dengan kekafirannya. Sekali-kali tidak! Allah menginginkan dari para hamba-Nya keimanan yang sebenarnya yang tumbuh dari kalbu dan keyakinan, dari pemikiran dan perenungan, dan dari ajaran nabi terakhir. Barang siapa yang beriman maka baginya surga, kebaikan dan pahala. Barang siapa yang kafir maka baginya neraka jahannam dan adzab yang pedih...
“Katakanlah, bahwa kebenaran itu datangnya dari Allah. Barang siapa yang mau beriman berimanlah, dan barang siapa yang mau kafir kafirlah. Sesungguhnya kami sediakan bagi orang-orang yang dhalim neraka yang mengepungnya. Dan jika mereka minta minum maka akan diberi minuman seperti besi mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman paling buruk dan peristirahatan paling jelek. # Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal sholeh, tentunya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalannya dengan baik.” (QS.Al-Kahfi:29-30)

Janganlah seseorang mentakwilkan seenaknya ayat Allah
“Tidak ada paksaan untuk masuk agama (Islam)”
tapi dia harus menyempurnakan potongan ayat sesudahnya,
“sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. # Allah Pelindung orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang kafir pelindungnya adalah syetan yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.” (QS.2:256-257)

BEBAS ATAU LIAR


Siapakah yang tidak ingin bebas? Semua makhluk hidup di dunia ini kalau ditanyakan masalah kebebasan pasti akan menyambut dengan positif. Apalagi bagi seorang manusia, kebebasan adalah fitrah yang dibawanya sejak lahir. Oleh karenanya, manusia akan merasa tertekan jika ia tidak mendapatkan kebebasan.

Islam sudah menjamin kebebasan manusia dalam segala hal, bahkan dalam beragama sekalipun. Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT, "Tidak ada paksaan dalam beragama..." (QS. Ali Imran : 19) Kebebasan individu benar-benar menjadi perhitungan dalam ajaran Islam. Maka tidak heran, jika dalam kitab-kitab fiqih para ulama membedakan hukum antara seorang budak dengan majikannya. Hukuman bagi seorang budak yang melanggar peraturan syariah adalah setengah hukuman majikannya yang merdeka. Sebab, keadaan dia sebagai budak menjadikan dia sebagai setengah manusia sehingga hanya berhak setengah hukuman.

Maka dari itu, Islam juga menolak ide 'Dosa Warisan' bagi anak cucu Adam. Sebab hal itu tidak sesuai dengan konsep kebebasan yang diajarkan oleh Islam. Nabi Muhammad saw pernah bersabda, "Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah..." (HR. ), dan bagian dari fitrah itu adalah kebebasan. Bagaimana mungkin seorang bayi yang baru dilahirkan akan menanggung dosa yang tidak diperbuatnya? Islam telah menetapkan bahwa seseorang tidak akan pernah dan tidak akan bisa menanggung dosa orang lain.

Namun kenapa banyak orang yang menuduh bahwa Islam mengekang kebebasan manusia, terutama wanita? Bisa dikatakan, bahwa tuduhan-tuduhan semisal itu muncul dikarenakan perbedaan dalam konsep kebebasan yang diinginkan. Bahkan setelah dideklarasikan Human Rights (Hak-hak Asasi Manusia) sedunia pun, masih terdapat perbedaan mendasar mengenai pemahaman dari apa yang dimaksud dengan hak asasi manusia, serta manusia mana yang dimaksud. Akhirnya, terjadilah tuduh menuduh akan pelanggaran HAM.

Karena konsep HAM yang dimaksudkan setiap individu adalah berbeda, maka unsur subjektifitas dalam menginterpretasikan HAM pun menjadi sangat kental. Banyak contoh yang bisa kita ambil melalui realita yang kita saksikan dan alami. Amerika, sebagai satu-satunya negara adi daya dunia sering kali dengan enteng menuduh satu negara telah melanggar HAM. Tapi Amerika jugalah satu-satunya negara yang mempunyai sebuah penjara illegal yang dibangun di luar negaranya. Penjara Guantanamo adalah salah satunya, yang didirikan di kawasan yang pada hakekatnya masih merupakan kedaulatan Kuba.

Kasus penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw oleh koran Jylland Posten, dipertahankan habis-habisan oleh Pemerintah Denmark dengan alasan 'kebebasan berpendapat'. Sehingga mereka tidak mau untuk mengucapkan maaf—apalagi penyesalan—atas perbuatan durjana tersebut. Ironisnya, seorang ahli sejarah yang ingin mengungkapkan hakekat Holocaust, diseret secara paksa ke pengadilan dengan tuduhan 'Anti Semit'. Padahal, ia menulis berdasarkan data-data dan fakta-fakta yang dikumpulkannya melalui sebuah penelitian yang sesuai dengan metode penulisan ilmiah. Akhirnya ia harus mendekam di penjara untuk mempertahankan kebebasan ilmiahnya.
Dari sini akan timbul pertanyaan, apa sebenarnya kebebasan yang dimaksud? Atau dengan kata lain, bagaimana konsep kebebasan yang ideal? Jika pertanyaan ini dikembalikan kepada Islam, maka kita akan mendapatkan jawabannya dengan jelas. Dalam sejarah disebutkan, seorang prajurit muslim ditanya oleh panglima Romawi tentang tujuan mereka datang. Prajurit muslim itu menjawab dengan tegas, "Kami datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap manusia menuju penghambaan terhadap Allah semata..."

Jadi, yang konsep kebebasan dalam Islam adalah bebasnya seseorang untuk menghambakan diri kepada Allah. Hal itu disesuaikan dengan tujuan penciptaan manusia yang termaktub di dalam Al Quran, "Dan tidak sekali-kali Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (Allah)." (QS. Adz Dzariyaat : 59)
Menurut konsep Islam, seseorang bisa dikatakan bebas dan merdeka jika ia bebas melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Seorang muslim yang taat adalah manusia yang paling bebas.

Mungkin ada timbul sebuah sanggahan, apalah artinya kebebasan jika masih tunduk terhadap peraturan-peraturan yang kebanyakan bertentangan dengan keinginan manusia. Apalagi jika peraturan itu bernama Syariah Islam yang nota bene bertentangan dengan hawa nafsu manusia. Sebagai contoh, Islam mengharamkan beberapa makanan dan minuman serta perbuatan yang disukai manusia. Untuk menjawab pertanyaan seperti ini, maka harus dikembalikan kepada makna kebebasan itu secara linguistik dan juga realita yang ada, benarkah bebas itu berarti tidak dikekang secara mutlak?

Dalam hal ini, banyak orang yang masih rancu dalam memahami kata bebas dan merdeka. Mereka tidak bisa membedakan antara bebas dengan liar. Bagi mereka yang kurang memahami realita kehidupan maka akan mendapatkan bahwa perbedaan antara bebas dengan liar itu sangat samar, bahkan tidak ada batas. Walau demikian, tak ada orang yang mau disebut sebagai orang liar. Jika seseorang memperhatikan realita kehidupan, akan mendapatkan bahwa ada jurang pemisah yang besar dan dalam yang memisahkan antara bebas dan liar.

Hal yang harus difahami, bahwa tidak ada kebebasan mutlak bagi semua makhluk di alam semesta ini dalam konteks apapun. Seorang pelajar Indonesia pasti pernah membaca pembukaan UUD 1945 yang berbunyi, ".....kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa...." Isi pembukaan itu, bagi mereka yang tidak bisa membedakan antara bebas dan liar, akan terasa aneh. Kenapa? Sebab teks itu tertulis dalam pembukaan UUD yang pada hakekatnya mengekang dan mengatur manusia dari kebebasannya yang mutlak. Pembukaan berbicara tentang kemerdekaan namun isinya berisi undang-undang yang mengekang sebagian kemerdekaan seseorang, bukankah itu suatu hal yang bertolak belakang? Ketika sebuah negara merdeka, artinya ia membebaskan diri dari aturan dan kekangan bangsa lain, lalu beralih untuk diatur dan dikekang oleh bangsanya sendiri. Bayangkan jika sebuah negara tanpa aturan, apa yang akan terjadi? Bahkan di rimba belantara pun terdapat sebuah peraturan, siapa kuat itu yang menang.

Oleh karena itu, manusia yang bebas adalah manusia yang tidak terintimidasi, tidak terjajah dan tidak termarginalkan. Kebebasan untuk berbuat bukan artinya bebas untuk menyakiti orang lain. Bebas berekspresi bukan berarti bebas bertindak amoral. Dengan kata lain, kebebasan seorang manusia tidak boleh mengganggu kebebasan dan ketentraman orang lain. Seseorang yang tidak mau tunduk terhadap peraturan yang menjamin kebebasan umum bukanlah orang bebas, tapi orang liar.

Fungsi dari adanya undang-undang, peraturan dan hukum adalah untuk mengatur kebebasan manusia agar jangan sampai merampas kebebasan orang lain. Itu juga yang dilakukan Islam melalui syariahnya. Adanya syariah yang merupakan undang-undang bagi setiap muslim dalam kehidupannya adalah untuk menjaga kebebasan manusia. Sebagai contoh, Islam melarang umat Islam untuk mendekati zina, kenapa? Karena hal itu akan mengganggu kebebasan orang lain. Bukankah pelecehan seksual menjadikan keamanan kaum hawa terancam?

Pelarangan satu aliran agama yang sudah jelas sesatnya menurut kesepakatan para ulama bukanlah bentuk pengekangan kebebasan. Tidak juga bertentangan dengan Pasal 29 ayat 2 UUD 1945. Mari kita perhatikan isinya. "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Apakah ayat tersebut bisa diinterpretasikan sebagai kebebasan untuk menyelewengkan satu agama atau keyakinan? Tentu tidak, justru dengan dijaminnya kebebasan beragama dan beribadat maka negara pun menjamin agar agama yang dianut warga negaranya tidak diselewengkan. Sebab, jika hal itu tidak dijamin negara maka kebebasan beragama tidak ada maknanya, sebab setiap insan beragama tidak akan merasa aman dan tenang akan kemurnian agamanya. Oleh karena itu, pelarangan satu aliran yang sesat—seperti Ahmadiyah Qadiyani—dan pelarangan pemikiran yang sesat—seperti Jaringan Islam Liberal—bukanlah perampasan kebebasan, tapi justru menjamin kebebasan umat beragama.

Semua makhluk ciptaan Allah tidak akan bisa mengelak dari kenyataan bahwa dirinya akan selalu menjadi hamba. Sebab, sebagai makhluk—yang dalam bahasa Indonesianya berarti yang diciptakan—secara otomatis akan tunduk kepada Khaliknya, sebagaimana sebuah komputer akan tunduk kepada kehendak pemiliknya. Demikian juga dengan manusia, dalam kondisi apapun akan tetap menjadi seorang hamba. Tinggal ia memilih jadi hamba apa atau hamba siapa. Jika ia memilih menjadi hamba Allah yang taat, maka Allah akan menundukkan semua makhluk-Nya dan menjadikan hamba tersebut tidak takut kepada apapun kecuali Allah. Itulah kebebasan yang hakiki. Jika tidak, maka ia akan menjadi hamba akal dan nafsunya. Pada saat itu, martabatnya sudah jatuh lebih rendah dari binatang, dan kebebasannya pun tercabut dari akarnya.

BULAN RAJAB
Antara Keutamaan dan Bid'ah


Banyak orang yang berbicara tentang keutamaan bulan Rajab, bahkan hal itu sudah sangat terkenal di sebagian kalangan masyarakat. Sayangnya, kebanyakan dari hal itu tidaklah benar adanya. Sedangkan yang dianggap "benar" pun masih dirasa samar kebenarannya, karena masih merupakan perselisihan yang tidak berujung antara para ulama terdahulu dan sekarang. Oleh karena, hal yang sangat urgen bagi umat Islam untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, serta membedakan mana yang haq dan mana yang batil, sekaligus menerangkan mana yang merupakan sunnah yang benar dan mana yang merupakan bid'ah yang tercela.

Dengan memohon pertolongan dari Allah SWT, marilah kita coba membahas masalah bulan Rajab ini.
Para ulama berkata, "Rajab رجب bentuk pluralnya adalah Arjab أرجاب , Rajbaanaat رجبانات , Arjibah أرجبة , dan Araajibah أراجبة .

Bulan Rajab ini mempunyai 18 nama, di antaranya :
1. 1. Rajab : disebut demikian karena kaum jahiliah mengagungkannya. يرجب = mengagungkan.
2. 2. Al-Ashom الأصم yang artinya 'Tuli' : karena mereka pada bulan ini tidak mendengar suara pedang.
3. 3. Al-Ashob الأصب yang artinya 'Limpahan' : karena mereka mengatakan pada bulan ini terlimpahkan rahmat.
4. 4. Rajm رجم : karena syetan-syetan dirajam pada bulan ini.
5. Bulan Haram
6. 6. Al-Haram : karena haramnya bulan ini sudah sejak dahulu kala.
7. 7. Al-Muqim المقيم : karena keharaman bulan ini tidak berubah (tetap).
8. 8. Al-Ma'laa المعلى artinya 'Tempat tinggi' : karena bulan ini tinggi kedudukannya di hadapan mereka.
9. 9. Al-Fardu الفرد artinya 'Sendirian' : ini adalah nama yang sesuai dengan syariat Islam.
10. Manshal Al-Asinnah : sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Bukhari
11. Mafshol Al-Aal : disebutkan oleh Al-A'syaa dalam kumpulan syairnya.
12. Manza' Al-Asinnah : sama dengan no. 10.
13. Syahr Al-Atiirah : Karena mereka selalu menyembelih korban pada bulan ini.
14. Syahrullah

Itu di antara 18 belas nama yang dikenal orang Arab jahiliah untuk bulan Rajab.. Banyak hadits yang meriwayatkan tentang keutamaan bulan ini, namun sebagian besar hadits tersebut bermasalah. Hadits-hadits yang shohihnya tidaklah langsung menunjukkan keutamaan bulan ini, dalam artian masih samar dan tidak jelas. Adapun hadits-hadits yang terang-terangan menunjukkan keutamaan bulan ini semuanya lemah atau palsu.

Ibnu Hajar Al-Asqolany berkata, " Tidak ada satu hadits shahih pun yang bisa dijadikan argumen yang menyatakan keutamaan bulan Rajab, atau keutamaan shaum sepanjang Rajab, atau menunjukkan pentingnya shaum di sebagian bulan Rajab, atau mengkhususkan bulan ini untuk Qiyamullail (sholat malam).."

Kemudian beliau berkata lagi, "Semua hadits yang berbicara secara terang-terangan yang meriwayatkan tentang keutamaan Rajab, atau shaum sepanjang Rajab, atau shaum sebagian Rajab terbagi dua : yang pertama Dha'if (lemah) atau palsu.."

Beliau sudah mengumpulkan hadits-hadits dha'if tersebut yang jumlahnya adalah 21 hadits. Mari kita telaah sebagian darinya.

1. " Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai yang bernama Rajab… dst" Dha'if.
2. Sesungguhnya Nabi saw ketika memasuki bulan Rajab berdoa, " Ya Allah berkatilah kami pada bulan Rajab dan Sya'ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.." Dha'if.
3. "Rasulullah saw tidak pernah shaum satu bulan penuh selain Ramadhan kecuali pada bulan Rajab dan Sya'ban.." Dha'if.
4. "Rajab bulan Allah, Sya'ban bulan saya, dan Ramadhan bulan ummat saya.." Batil.
5. "Barang siapa yang shaum sehari pada bulan Rajab dengan penuh keimanan… dst. Barang siapa yang shaum dua hari …dst Barang siapa shaum tiga hari….dst" Palsu.
6. " Keutamaan bulan Rajab di antara bulan-bulan yang lain….dst " Palsu
7. " Rajab adalah bulan Allah yang disebut Al-Ashom…dst " Palsu
8. " Barang siapa membebaskan beban seorang mukmin pada bulan Rajab…dst" Palsu.
9. " Sesungguhnya hari-hari bulan Rajab tertulis pada pintu-pintu langit ke tujuh, barang siapa yang shaum di dalamnya…dst" Sanadnya Dusta/Bohong.
10. Hadits yang meriwayatkan sholat pada malam pertama bulan Rajab…dst Palsu.
11. "Shaum satu hari pada bulan Rajab beserta sholat empat rakaat dengan cara membaca tertentu…." Palsu.
12. " Barang siapa yang sholat pada malam 27 Rajab 12 Rakaat …dst" Palsu.
13. " Barang siapa yang sholat pada malam pertengahan Rajab 10 Rakaat..dst" Palsu.
14. " Saya diutus sebagai nabi pada hari ke 27 Rajab." Sanadnya Munkar (tidak dipercaya)
15. Hadits-hadits lainnya yang semuanya berbicara tentang keutamaan shaum Rajab, dan semuanya Palsu..!!!

Abu Bakar Al-Tharthusyi berkata dalam bukunya "Al-Bida' wa Al-Hawadits" (Kumpulan Bid'ah dan yang diada-adakan),
" Shaum pada bulan Rajab itu dibenci karena beberapa hal. Karena jika seseorang mengkhususkan bulan ini untuk shaum—sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang awam—maka shaumnya tersebut menjadi wajib sebagaimana Ramadhan, atau menjadi sunnah yang telah ditetapkan (seperti shaum Senin dan Kamis dan Shaum Daud), atau karena shaum yang dikhususkan pada bulan Rajab tersebut lebih utama pahalanya dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Kalau salah satu dari tiga hal itu benar adanya, tentulah Rasulullah saw telah menerangkannya."

Isra' Mi'raj

Al-'Allaamah Abu Syaamah, dalam kitabnya " Al-Ba'its 'alaa inkaar Al-Bida' wa Al-Hawadits" (Pembangkit Keinkaran Terhadap Bid'ah-bid'ah dan Ibadah yang dibuat-buat), mengatakan bahwa Isra' dan Mi'raj tidak terjadi pada bulan Rajab.

Beliau berkata,
" Sebagian cerita menyebutkan bahwa Isra' terjadi pada bulan Rajab. Hal itu bagi para ahli ta'dil dan tajrih (ulama yang terkemuka dalam menyeleksi kebenaran para perawi hadits) adalah kedustaan yang sebenarnya. Imam Abu Ishaq Al-Harbi mengatakan : Nabi saw di-Isra'-kan pada tanggal 27 bulan Rabiul Awal.."

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolany dalam 'Fathul Bary'-nya mengatakan bahwa perselisihan dalam menentukan waktu Isra' Mi'raj lebih dari sepuluh pendapat. Di antaranya ada yang mengatakan bahwa itu terjadi pada bulan Ramadhan, atau Syawal, atau Rajab, atau Rabiul Awal, atau Rabiul Akhir.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, bahwa tidak ada dalil yang diketahui menetapkan bahwa malam Isra' Mi'raj terjadi pada pada bulan atau tanggal tertentu.

Kesimpulan para ulama yang meneliti masalah ini, bahwa Malam Isra' Mi'raj adalah malam yang agung tapi tidak diketahui masa terjadinya.

Untuk lebih mudahnya, maka akan coba diterangkan sbb ;

Sebagian ibadah berhubungan dengan waktu yang telah diketahui yang tidak boleh didahulukan atau dilewatkan, seperti Sholat Fardlu.

Sebagian ibadah telah disembunyikan oleh Allah waktunya, tapi kita diperintahkan untuk berusaha untuk mendapatkannya. Sehingga setiap muslim akan berlomba dan berusaha keras untuk meraihnya. Seperti Malam Lailatul Qadr yang ada pada salah satu malam yang bilangan ganjil di bulan Ramadhan. Sebagaimana juga waktu diterimanya doa pada hari Jumat.

Tapi ada juga waktu yang agung kedudukannya di sisi Allah, tapi tidak diperintahkan di dalamnya ibadah secara syar'i. Oleh karena itu, Allah menyembunyikan ilmunya di hadapan manusia, sebagaimana Malam Isra' Mi'raj.

Jendral DR. Faisal bin Ja'far Baly, mantan Direktur Urusan Keagamaan Angkatan Bersenjata Kerajaan Arab Saudi, telah mengumpulkan berbagai macam bid'ah yang terjadi pada bulan Rajab, baik dulu maupun sekarang. Beliau berkata,

" Sesungguhnya keutamaan setiap bulan dan setiap hari itu berbeda sebagaimana perbedaan keutamaan setiap manusia. Bulan paling utama adalah Ramadhan, hari paling utama adalah Jum'at, dan malam paling utama adalah Lailatul Qodar.

Tolak ukur untuk menetapkan keutamaan suatu bulan, atau suatu hari, atau suatu malam adalah Syari'at Allah SWT. Apa yang telah ditetapkan oleh Al-Quran dan As-Sunnah yang shohih tentang keutamaan sesuatu, maka keutamaan tersebut benar adanya. Adapun yang tidak ditetapkan oleh kedua sumber tadi, atau diriwayatkan dalam hadits yang dha'if (lemah) atau maudhu' (palsu), maka keutamaan itu tidak diakui serta tidak ada perbedaan antara yang diutamakan dengan selainnya.
Di antara bulan-bulan yang diharamkan Allah melalui Al-Quran dan As-Sunnah—yang berjumlah empat bulan—adalah bulan Rajab. Namun sebagian orang ahli bid'ah dengan senang hati menambahkan keutamaan serta keistimewaan bulan Rajab melebihi dari yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dengan cara menciptakan ibadah-ibadah, perayaan-perayaan yang tidak pernah diperintahkan Allah SWT, dan menyerupai orang-orang Jahiliah yang melakukan hal serupa pada bulan Rajab. Di antara kesesatan tersebut adalah :

1. Memotong sembelihan yang disebut Al-'Atiirah العتيرة . Orang-orang jahiliah telah melakukan hal serupa, kemudian Islam melarangnya. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda,
" لا عتيرة في الإسلام "
"Tidak ada Atiirah dalam Islam" (H.R. Ahmad 2/229)
Abu Ubaidah berkata, " Al-'Atiiroh adalah hewan yang dipotong pada bulan Rajab oleh orang-orang jahiliah, kemudian dilarang oleh Islam." (Fathul Bary 9/512)
Ibnu Rajab berkata, "Hal yang serupa dengan memotong hewan pada bulan Rajab adalah menjadikan bulan Rajab itu sebagai Hari Raya dan Bulan yang istimewa dengan membuat manisan-manisan untuk dimakan pada saat itu." (Lathooif Al-Ma'aarif : 227)

2. Meyakini bahwa malam 27 Rajab sebagai Malam Israa' Mi'raj, yang menyebabkan terjadinya perayaan besar-besaran untuk merayakan malam ini. Hal seperti ini batil dari dua sisi :
a. Tidak ada dalil yang menetapkan secara tegas bahwa Isra' Mi'raj terjadi pada malam tersebut sebagaimana pengakuan mereka. Bahkan, perselisihan antara para ahli sejarah tentang bulan terjadinya pun demikian besar, apalagi penentuan tanggalnya.
b. Kalaupun ada dalil yang menegaskan tentang terjadinya Isra' Mi'raj pada malam tersebut, maka tidak boleh diadakan satu amalan yang tidak disyari'atkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Tidak diragukan lagi bahwa merayakannya merupakan salah satu bentuk ibadah. Sedangkan ibadah tidak bisa ditetapkan kecuali dengan nash (teks), dan tidak ada nash yang menunjukkan hal itu. Maka, perayaan seperti ini merupakan hal yang baru / diada-adakan dalam agama. Apalagi jika perayaan seperti ini diikuti dengan adanya wirid-wirid dan dzikir-dzikir yang bid'ah. Bahkan sebagian dari dizikir dan wirid tersebut mengandung unsur kemusyrikan yang terwujud dalam tawassul dan meminta pertolongan Nabi saw, karena kedua hal itu tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah SWT.

3. Menciptakan satu sholat pada malam Jumat pertama di bulan Rajab yang disebut dengan Sholat Roghaaib. Kemudian mereka membuat hadits-hadits yang penisbatannya kepada Nabi saw tidak benar. Sholat itui merupakan sholat yang batil dan bid'ah menurut Ulama Jumhur.

4. Mengkhususkan hari-hari pada bulan Rajab untuk melaksanakan shaum. Padahal, telah nyata satu kabar bahwa Umar bin Khattab ra memukul telapak tangan orang-orang yang shaum pada bulan Rajab sampai mereka mau makan, seraya beliau berkata, "Apa itu bulan Rajab? Sesungguhnya bulan Rajab diagungkan oleh orang-orang Jahiliah. Adapun setelah Islam datang maka hal itu ditinggalkan..!" (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah : 2/345)

5. Mengkhususkan bulan Rajab untuk bershodaqoh dengan keyakinan bahwa hal itu merupakan sebuah keutamaan. Padahal shodaqoh itu disyariatkan pelaksanaannya kapan saja. Adapun keyakinan bahwa keutamaan shodaqoh pada bulan Rajab adalah keyakinan yang salah.

6. Mengkhususkan bulan Rajab untuk melaksanakan Umroh yang disebut dengan Al-'Umroh Al-Rojabiyah. Sedangkan umroh itu disyariatkan pelaksanannya pada hari apapun sepanjang tahun. Pengkhususan Umroh pada bulan Rajab dan keyakinan bahwa hal itu lebih utama adalah dilarang.

Segala bid'ah dan kesesatan yang terdahulu dibangun di atas keyakinan yang salah dan hadits-hadits dho'if serta palsu yang berbicara tentang keutamaan bulan Rajab, sebagaimana yang diterangkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolany. (Tabyiin Al-Ajab Bimaa Wurida fii Fadhli Rajab : 23)

Selayaknya seorang muslim untuk berittaba' (mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah yang shohih) dan dilarang untuk berbuat bid'ah. Karena kecintaan terhadap Rasulullah saw hanya bisa diperoleh dengan ittiba' dan bukan dengan bid'ah. Sebagaimana firman Allah SWT
" Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (31) Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir." (32) " (Ali Imran : 31-32)

(Disadur dari majalah At-Tauhid edisi Rajab 1420 H)